Pessel, elaeis.co - Meski musim kemarau berlangsung cukup panjang sepanjang tahun 2026 ini, produksi kebun kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, dilaporkan masih berada dalam kondisi stabil.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebun sawit masyarakat di daerah itu masih mampu mempertahankan produktivitasnya. Meski minimnya curah hujan yang terjadi hampir di seluruh sentra kelapa sawit di Indonesia.
Sayangnya, dari sisi harga, petani sawit di Pessel masih menghadapi tantangan. Harga sawit swadaya menjadi peling rendah jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Sumbar. Harga tertinggi hanya sebesar Rp3.030/kg. Harga itu juga merupakan harga papan PKS, jika di tengkulak tentu harganya lebih rendah lagi.
"Padahal untuk periode I September 2025, harga TBS sawit mitra plasma di Sumatera Barat tercatat sebesar Rp4.005,47/kg," terang Ketua Apkasindo Pessel, Gestapson kepada elaeis.co, Kamis (3/9)
Perbedaan harga yang cukup lebar antara petani plasma dan petani swadaya ini menjadi perhatian berbagai pihak. Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab rendahnya harga TBS swadaya di Pesisir Selatan, mulai dari rantai pemasaran, akses ke pabrik kelapa sawit, hingga aspek tata niaga yang masih perlu dibenahi.
“Alasannya sangat panjang untuk dijelaskan. Ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi APKASINDO Pesisir Selatan ke depan,” ujarnya.
Ke depan, Ia berharap Apkasindo dapat berperan lebih aktif dalam memperjuangkan perbaikan tata niaga dan peningkatan posisi tawar petani swadaya agar harga TBS yang diterima petani semakin kompetitif dan mendekati harga yang diterima petani plasma.
"Di tengah kondisi harga yang belum ideal, stabilnya produksi kebun sawit menjadi kabar positif bagi petani Pesisir Selatan. Dengan dukungan kelembagaan petani yang kuat dan perbaikan rantai pasok, diharapkan kesejahteraan petani sawit swadaya di daerah tersebut dapat terus meningkat," pungkasnya.
Produksi Sawit Pessel Tetap Stabil di Tengah Kemarau Panjang
Diskusi pembaca untuk berita ini