Jakarta, elaeis.co - Pemilihan jenis pupuk nitrogen kembali menjadi sorotan dalam upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit nasional. Dua jenis pupuk yang paling sering digunakan, yakni urea dan ZA (amonium sulfat), kerap dibandingkan petani karena dianggap memiliki dampak berbeda terhadap hasil panen.

Praktisi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Djan Muhayat, menjelaskan bahwa kedua pupuk tersebut sebenarnya memiliki fungsi utama yang sama, yaitu sebagai sumber unsur hara nitrogen (N) yang sangat dibutuhkan tanaman sawit untuk pertumbuhan vegetatif dan pembentukan produksi.

Namun, menurutnya, perbedaan utama terletak pada kandungan nutrisi dan karakter aplikasinya di lapangan.

“Urea memiliki kandungan nitrogen sekitar 46 persen, sedangkan ZA hanya sekitar 20,8 persen. Dari sisi efisiensi, urea lebih tinggi karena dosis yang dibutuhkan lebih kecil,” jelas Djan, dikutip dari PPKS TV.

Meski demikian, ZA tidak bisa dianggap kalah dalam semua kondisi. Pupuk ini memiliki keunggulan tambahan berupa kandungan sulfur (S), yang juga berperan penting dalam pembentukan protein dan metabolisme tanaman.

Perbedaan inilah yang membuat pemilihan pupuk tidak bisa disamaratakan untuk seluruh kondisi lahan sawit di Indonesia.

Dalam praktik budidaya, urea sering dipilih karena lebih efisien dari sisi volume dan biaya distribusi. Dengan kandungan nitrogen tinggi, petani dapat menghemat jumlah aplikasi di lapangan.

Sementara itu, ZA lebih banyak direkomendasikan untuk kondisi tanah tertentu, terutama lahan gambut yang membutuhkan tambahan unsur sulfur.

“ZA biasanya lebih cocok di lahan gambut karena kandungan sulfurnya membantu keseimbangan unsur hara. Tapi tetap harus hati-hati, terutama di gambut muda yang tingkat keasamannya tinggi,” ujarnya.

Kondisi ini membuat strategi pemupukan sawit menjadi lebih kompleks, karena tidak hanya mempertimbangkan harga pupuk, tetapi juga karakteristik tanah dan kebutuhan nutrisi tanaman secara spesifik.

Menurut Djan, tidak ada jawaban tunggal apakah urea atau ZA yang lebih unggul dalam meningkatkan produksi sawit. Hasil panen sangat bergantung pada keseimbangan nutrisi, dosis yang tepat, serta kondisi lahan.

“Kalau perhitungan dosisnya benar, hasilnya bisa setara. Yang menentukan bukan hanya jenis pupuknya, tetapi bagaimana cara pengelolaannya di lapangan,” tegasnya.

Ia menambahkan, penggunaan ZA memang membutuhkan volume lebih besar dibandingkan urea, sehingga berdampak pada kebutuhan logistik dan penyimpanan di tingkat petani. Namun dalam kondisi tertentu, kombinasi unsur nitrogen dan sulfur justru dapat memberikan dampak positif pada pertumbuhan tanaman.

PPKS menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan produksi sawit tidak hanya bergantung pada satu jenis pupuk, melainkan pada manajemen pemupukan yang tepat, terukur, dan berkelanjutan.

Faktor seperti analisis tanah, umur tanaman, kondisi iklim, hingga efisiensi biaya harus menjadi pertimbangan utama sebelum menentukan jenis pupuk yang digunakan.

Dengan pemahaman yang lebih baik, petani sawit diharapkan tidak lagi sekadar memilih pupuk berdasarkan kebiasaan, tetapi berdasarkan rekomendasi teknis yang sesuai.

“Tujuannya bukan sekadar panen tinggi, tapi juga efisiensi dan keberlanjutan jangka panjang,” tutup Djan.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan produktivitas sawit nasional, pemahaman teknis seperti ini menjadi kunci agar petani dapat mengambil keputusan pemupukan yang lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada hasil panen.