Orang Eropa ini, lidahnya pantang diajar. Setelah mereka tahu rasa enak makan itu berasal dari rempah – rempah Nusantara, mereka ingin menemukan sumbernya, alkisah membeli dari pedagang Andalusia, alangkah mahalnya.

Ekspedisi bangsa Eropa pun dimulai untuk mencari Kepulauan Rempah–rempah itu (baca: Nusantara). Penjelajahan pertama oleh Portugis di bawah Bartholomeus Diaz hanya mencapai setengah jalan.

Spanyol yang berharap menemukan jalan pintas, mau tidak mau harus membiayai Chistoper Columbus yang punya ide untuk pergi ke Timur dengan cara aneh, berlayar ke arah Barat. Columbus percaya mutlak kepada Ptolemeus, Copernicus dan Galileo yang mengajarkan kepada Eropa bahwa bumi itu bulat.

Bukannya sampai lebih cepat apalagi menemukan rempah-rempah, ia justru mendapatkan bongkahan besar penghalang, dihuni bangsa pribumi yang mengikat kepala dengan bulu merak. 

Columbus menamakan daratan penghalang besar itu sebagai Amerika dengan mengambil nama temannya Amerigo Vespucci. Ia juga menyebut kaum pribumi itu Indian karena menganggap Amerika sebagai India (Timur).

Dengan bekal pengetahuan dan teknologi dalam genggamannya, orang Eropa menjadi petaka bagi dunia terbelakang. Mereka pun menghancurkan peradaban Aztec, Inca dan Indian di Amerika, Aborigin di Australia dan Maori di Selandia Baru.

Dengan kapal–kapal mesin uap, mereka mengangkut budak–budak Afrika untuk menjadi petani tembakau di Amerika atau pemuda–pemuda dari daratan Cina sebagai buruh kasar perkebunan teh di Sumatera Timur. Petaka serupa menimpa pribumi Indonesia sebagai tujuan awal ekspedisi Eropa. Ratusan tahun lamanya bangsa ini gemetar di bawah todongan senjata.

Buang yang keruh ambillah yang jernih. Sisi malaikat Eropa adalah kegairahan belajar dan menghargai ilmu pengetahuan. Sisi iblisnya adalah penjajahan dan penghisapan. Maka ambil sisi malaikat itu dengan menegakkan perpustakaan megah macam Eropa. 

Setiap kota bisa menjadi kota baca, kota pustaka, kota cendikia dan perpustakaan super megah yang menyimpan jutaan buku terbaik di dunia. Sulit mana dibanding Eropa masa lalu? Ketika ilmu mesin cetak belum kelar di otak Gutenberg, harga satu buku ada yang menyamai mobil Roll Royce, tapi mereka membelinya untuk dijadikan koleksi pustaka.