Sudut Kata 

Responsible Consumer

  • Reporter Aziz
  • 07 September 2021
Responsible Consumer
Mochamad Husni. foto: dok. pribadi

Saya mengenal seorang adik kelas sewaktu kuliah di Fisip Universitas Indonesia. Namanya: Frans Supiarso. 

Bila selepas dari kampus saya langsung menekuni profesi sebagai jurnalis, rekan saya yang satu ini rupanya terus berkutat di lingkungan pendidikan. 

Ia kuliah ke jenjang lebih tinggi. Sampai suatu ketika ia dinyatakan lulus mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang Kesejahteraan Sosial.

Yang menarik, ia mengambil objek penelitian tentang industri kelapa sawit. “Analisis Morfogenetik Pemberdayaan dan Kesejahteraan Pekebun Plasma di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat". 

Hasil penelitiannya menegaskan kembali bahwa pola kemitraan petani dan pekebun plasma merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk desa. 

Baca juga: Mendekati Kebaikan

Frans Supiarso. foto:ist

Topik riset dan dunia kelapa sawitlah yang kemudian membuat kami sering berbincang lagi. Seperti week end ini, di tengah kesibukannya sebagai peneliti, saya ngobrol-ngobrol sambil membicarakan beberapa hal seputar nasib petani sawit rakyat dan industri kelapa sawit kita.

Setidaknya, ada beberapa poin penting yang bisa saya bagikan di sini.

Menurutnya, kerja sama antara petani sawit dan perusahaan sangat bagus bagi perkembangan industri kelapa sawit nasional. 

“Setidaknya, petani sawit mendapat support di bagian-bagian yang menjadi kekuatan perusahaan,” tegasnya.  

Dalam hal produktivitas misalnya, berdasarkan pengamatan dan literatur yang ada, Frans berani menyimpulkan bahwa interaksi dengan perusahaan yang telah menerapkan tata kelola dengan baik berdampak positif bagi perkebunan rakyat. 

Bukan cuma dukungan dalam bentuk bibit berkualitas, dukungan perusahaan juga sangat penting karena kalangan perusahaanlah yang memiliki network ke sektor hilir.

“Ke depan, kerja sama seperti ini tampaknya akan makin menguat,” katanya.

Prediksinya mengenai pola hubungan antara petani dan perusahaan di masa depan juga didasarkan trend yang terus berkembang. 

Terutama, dalam hal komposisi antara perkebunan sawit miliki masyarakat (petani) dan perusahaan. 

Semakin hari, jumlah petani sawit semakin banyak. Sementara pemerintah seolah menekan pedal rem ekspansi perusahaan skala besar dengan menerapkan kebijakan moratorium.

Dari kecenderungan itu, menurutnya, ada dua peluang besar untuk kemajuan industri kelapa sawit nasional. 

Pertama, petani dan perusahaan bisa didorong untuk bekerja sama dalam rangka menciptakan stabilitas harga. 

Kedua, kerja sama petani sawit dan perusahaan membuka peluang besar juga dalam hal membangun narasi-narasi yang positif. 

Dengan komposisi petani yang besar, menurutnya, jika mereka diedukasi dan dibantu untuk mempraktekkan prinsip-prinsip “green” dalam mengelola perkebunan kelapa sawit, maka penyebaran narasi tentang industri kelapa sawit yang berkelanjutan dapat semakin luas.

Berkaca pada industri lain, ada yang disebut dengan “responsible consumer”. Ini konsep yang mungkin perlu dipikirkan lebih jauh, katanya. Lalu, apa hubungannya dengan kelapa sawit?

Menurutnya, konsumen industri kelapa sawit juga harus mengapresiasi manakala industri ini telah bersungguh-sungguh menerapkan prinsip-prinsip sustainability

Apresiasi itu, misalnya, ditunjukkan dalam bentuk komitmen pasar yang siap membeli dengan harga lebih mahal. 

“Dengan kekuatan masyarakat petani, kepedulian atau komitmen pasar seperti konsep “responsible consumer” mungkin dapat diwujudkan di industri kelapa sawit kita,” katanya.


Mochamad Husni

Mantan jurnalis yang kini bekerja sebagai manajer Public Relations. Branding, reputasi atau sekadar berbagi inspirasi menjadi pilihannya dalam banyak tulisan. 

Karyanya dituangkan melalui channel sosial media, artikel-artikel di media massa, maupun dalam format buku yang digarap sebagai seorang ghost writers

Editor: Abdul Aziz