Jakarta, elaeis.co - Reli saham sektor kelapa sawit semakin menguat di Bursa Efek Indonesia (BEI), seiring lonjakan harga crude palm oil (CPO) dan sentimen positif kebijakan energi nasional. 

Emiten seperti PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menjadi sorotan utama setelah mencatatkan penguatan signifikan dan memimpin tren “pesta cuan” di sektor agribisnis.

Data pasar menunjukkan saham-saham sawit bergerak positif di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Bahkan, sektor ini dinilai menjadi salah satu penopang ketika pasar global diliputi ketidakpastian. Kinerja impresif ini tidak lepas dari fundamental komoditas yang sedang berada dalam tren bullish.

Secara global, harga CPO terus menguat sepanjang 2026. Dalam periode akhir Februari hingga awal April 2026, harga CPO tercatat melonjak sekitar 19,4% dari RM4.042 menjadi RM4.826 per ton, saat IHSG justru mengalami tekanan signifikan . 

Sementara itu, rata-rata harga CPO pada kuartal I-2026 berada di kisaran RM4.200 per ton (sekitar Rp14,9 juta), naik sekitar 4% secara kuartalan .

Kenaikan harga ini menjadi katalis utama bagi saham-saham sawit, karena secara langsung meningkatkan margin dan pendapatan emiten. 

TAPG, misalnya, dinilai memiliki keunggulan dari sisi struktur biaya pupuk yang lebih efisien serta eksposur terhadap harga spot CPO, sehingga lebih cepat merespons kenaikan harga pasar .

Dari sisi kebijakan, implementasi mandatori biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai 1 Juli 2026 menjadi faktor kunci penggerak sektor ini. 

Program tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan domestik CPO hingga 3,5 juta ton tambahan, atau naik sekitar 15–25% dibanding program sebelumnya . Bahkan, secara total kebutuhan bisa mencapai sekitar 16 juta ton CPO untuk mendukung program B50 .

Lonjakan permintaan ini berpotensi menekan pasokan ekspor dan menjaga harga tetap tinggi. Analis menilai kondisi tersebut akan menciptakan kombinasi ideal antara peningkatan harga dan stabilitas permintaan domestik, yang berdampak positif bagi kinerja emiten sawit.

Selain faktor domestik, sentimen global juga memperkuat tren kenaikan. Potensi fenomena El Nino pada paruh kedua 2026 diperkirakan dapat menekan produksi sawit global, sehingga memperketat pasokan dan mendorong harga lebih tinggi . 

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dan minyak nabati pesaing juga turut mengangkat daya saing CPO di pasar internasional .

Riset analis juga menunjukkan prospek kinerja sektor sawit akan membaik pada kuartal II dan III 2026, dengan estimasi pemulihan laba masing-masing hingga 41% dan 29% secara kuartalan . 

Dalam konteks ini, TAPG dan beberapa emiten lain seperti DSNG masih menjadi pilihan utama investor karena kombinasi pertumbuhan dan efisiensi.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Kenaikan biaya pupuk yang mencapai sekitar USD275 per ton (naik 37% YoY) berpotensi menekan margin, terutama bagi emiten dengan struktur biaya kurang efisien . 

Selain itu, volatilitas harga komoditas dan kebijakan ekspor juga dapat mempengaruhi pergerakan saham dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, saham sawit kini kembali menjadi primadona di pasar modal Indonesia. Didukung kenaikan harga CPO, kebijakan B50, serta potensi gangguan pasokan global, sektor ini menawarkan kombinasi menarik antara defensive play dan growth opportunity. 

Dalam lanskap tersebut, PGUN dan TAPG tampil sebagai pemimpin reli, membawa sektor sawit ke puncak perhatian investor di 2026.