Oleh: Idung Risdiyanto

Perdebatan mengenai keberlanjutan kelapa sawit sering disederhanakan menjadi dua sisi, sangat efisien secara ekonomi, tapi dianggap bermasalah bagi iklim dan lingkungan. Artikel Alcock et al. (2022) berjudul More sustainable vegetable oil: balancing productivity with carbon storage opportunities (Science of the Total Environment, DOI: 10.1016/j.scitotenv.2022.154539) masuk dalam perdebatan ini melalui perbandingan minyak nabati global berbasis life cycle assessment. Artikel tersebut sejak awal disusun dalam kerangka yang secara sistematis melemahkan narasi bahwa produktivitas sawit merupakan pilihan rasional bagi keberlanjutan. Kerangka penilaian karbon pada artikel ini sejak awal menempatkan sawit pada posisi defensif.

Strategi argumentasi Alcock dkk secara konsisten mengaitkan keunggulan hasil per hektar sawit dengan asumsi ekspansi di lanskap berstok karbon tinggi. Pendekatan ini menyebabkan manfaat produktivitas sawit tidak dibaca sebagai keunggulan sistem produksi, melainkan langsung ditempatkan dalam kerangka kehilangan karbon akibat konversi lahan. Posisi sawit tidak dinilai dari kinerja biologis dan teknologinya, tetapi dari konteks geografis tempat ia tumbuh dan berkembang. Penempatan ini membuat sawit sejak awal diposisikan sebagai komoditas berisiko tinggi, bahkan sebelum variasi praktik produksi dan kemungkinan perbaikan teknis dipertimbangkan secara setara.

Namun justru ketika temuan-temuan ilmiah dalam artikel ini dibaca apa adanya, kelapa sawit muncul sebagai pilihan paling rasional dalam diskursus iklim dan lingkungan saat ini. Ini penjelasannya.

Pertama, Alcock dkk secara tegas mengakui bahwa kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak paling produktif di dunia. Dengan hasil minyak empat hingga sepuluh kali lebih tinggi per hektar dibandingkan rapeseed, sunflower, atau kedelai, sawit membutuhkan lahan jauh lebih kecil untuk menghasilkan volume minyak yang sama. Dalam kerangka biofisik global, keunggulan ini berarti potensi terbesar untuk menekan ekspansi lahan dan mengurangi tekanan konversi ekosistem di tempat lain.

Kedua, artikel ini mengakui bahwa intensitas emisi gas rumah kaca sawit (GRK) tidak bersifat bawaan. Ketika faktor perubahan penggunaan lahan dikeluarkan dari perhitungan, emisi sawit berada pada kisaran yang sebanding, bahkan dalam beberapa kasus lebih rendah, dibandingkan minyak nabati lain. Temuan ini memperjelas bahwa persoalan utama sawit bukan terletak pada sistem tanamannya, melainkan pada sejarah dan lokasi ekspansinya. Dengan kata lain, sawit bukanlah sumber emisi tinggi secara otomatis, melainkan menjadi bermasalah dalam konteks perubahan penggunaan lahan.

Ketiga, Alcock dkk menekankan bahwa sawit memiliki potensi penurunan emisi yang besar melalui intervensi teknis yang konkret. Penangkapan metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) disebut sebagai salah satu langkah paling efektif untuk menurunkan jejak karbon sawit secara signifikan. Tidak banyak sistem pertanian lain yang memiliki satu titik intervensi dengan dampak mitigasi sebesar ini. Variasi emisi sawit yang tinggi antar produsen (sering dipersepsikan sebagai kelemahan), justru menunjukkan bahwa ruang perbaikan masih sangat terbuka, berbeda dengan sistem minyak nabati lain yang relatif telah mencapai batas efisiensinya.

Namun kemudian, Alcock dkk. membingkai ulang temuan-temuan tersebut melalui konsep carbon storage opportunity cost. Sebuah gagasan yang menunjukkan bahwa setiap hektar lahan pertanian merepresentasikan kesempatan penyimpanan karbon yang hilang seandainya lahan tersebut direstorasi menjadi ekosistem alami. Gagasan ini memunculkan persoalan yang mendasar. Karbon yang dihitung bukanlah karbon yang benar-benar diserap atau dilepaskan dalam praktik produksi, melainkan karbon yang diasumsikan dapat disimpan dalam skenario restorasi.

Dalam konteks meteorologi dan klimatologi, gagasan ini problematik. Komponen kunci dalam mitigasi GRK adalah reduksi konsentrasinya di atmosfer secara aktual, bukan sekadar perbandingan stok karbon hipotetis di permukaan. Pengaburan perbedaan ini, menyebabkan gagasan tersebut berisiko mengalihkan fokus kebijakan iklim dari proses nyata penyerapan dan penghindaran emisi menuju akuntansi karbon yang bersifat statis dan spekulatif.

Pendekatan ini menempatkan sawit pada posisi yang kurang menguntungkan karena sebagian besar produksinya berada di wilayah tropis dengan cadangan karbon tinggi. Sebaliknya, minyak nabati dari wilayah beriklim sedang menjadi diuntungkan oleh sejarah konversi lahan yang lebih lama, sehingga tampak memiliki jejak karbon lebih rendah dalam perhitungan saat ini.  Menariknya, para penulis sendiri mengkritik praktik penilaian yang hanya menghitung perubahan penggunaan lahan terkini karena berpotensi mengaburkan tanggung jawab historis.

Namun kritik tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi koreksi penilaian yang setara antar wilayah produksi minyak nabati. Akibatnya, sawit berada dalam posisi paradoks. Ia diakui sebagai sistem paling efisien, paling responsif terhadap perbaikan teknologi, dan berpotensi menurunkan emisi secara signifikan, namun tetap dinilai melalui kerangka karbon yang bertumpu pada peluang restorasi yang belum tentu terwujud.

Tulisan ini tidak bertujuan menafikan dampak lingkungan sawit, melainkan menekankan perlunya membedakan antara karbon yang benar-benar mengalir dan diserap dalam sistem produksi nyata dengan karbon yang hanya hadir sebagai kemungkinan dalam model. Jika keberlanjutan ingin dibangun di atas penilaian yang adil dan berbasis praktik nyata, maka sawit perlu dinilai berdasarkan kinerja aktualnya serta potensi perbaikannya yang dapat diimplementasikan, bukan semata-mata atas hipotesis dan peluang yang belum tentu terwujud.

Ketika kerangka carbon storage opportunity cost dilembagakan melalui EU Deforestation Regulation (EUDR) dan standar ESG global, kebijakan iklim berisiko menghukum sistem produksi paling efisien atas klaim karbon hipotetis, sambil mengabaikan jejak konversi lahan historis di wilayah lain. Dalam logika ini, menyingkirkan sawit bukanlah kemenangan iklim, melainkan kegagalan membedakan antara pengurangan emisi nyata dan moralitas karbon yang nyaman secara politis.

*) Pengajar Program Studi Meteorologi Terapan IPB University