Data BPS menunjukkan posisi Indonesia sebenarnya terus membaik dalam dua dekade terakhir. Pada 2005, Indonesia berada di peringkat ke-24 negara asal impor Arab Saudi dengan nilai ekspor US$517,61 juta atau pangsa pasar hanya 0,90 persen.
Kemudian pada 2025, posisi Indonesia naik menjadi peringkat ke-18 dengan nilai ekspor mencapai US$3,43 miliar. Nilai tersebut meningkat sekitar enam kali lipat dibandingkan 20 tahun sebelumnya.
Amalia mengatakan Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan posisi tersebut hingga masuk jajaran 10 besar pemasok Arab Saudi.
"Dalam 20 tahun peringkat ini bisa kita naikkan. Pada tahun 2005 Indonesia berada di peringkat ke-24, sedangkan pada tahun 2025 posisi Indonesia sudah meningkat menjadi pemasok terbesar ke-18 untuk pasar Arab Saudi. Tapi belum menjadi 10 besar," ujarnya.
Selain sawit, sejumlah komoditas Indonesia juga memiliki pangsa pasar cukup kuat di Arab Saudi. Produk kayu dan barang dari kayu mencatat nilai US$146,86 juta dengan pangsa 8,08 persen.
Kopi, teh, dan rempah-rempah mencapai US$122,13 juta dengan pangsa 6,61 persen. Kemudian kertas dan produk turunannya sebesar US$103,61 juta dengan pangsa 5,92 persen.
Untuk produk olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, nilai ekspor mencapai US$78,35 juta dengan pangsa 19,60 persen. Sementara biji dan buah mengandung minyak mencapai US$66,88 juta dengan pangsa 7,27 persen.
BPS menilai pemetaan produk unggulan dan kompetitor dapat menjadi dasar bagi Indonesia menyusun strategi penetrasi pasar yang lebih tepat.
Khusus sawit, penguasaan 38,29 persen pasar menjadi modal penting bagi Indonesia. Tantangannya kini adalah mempertahankan dominasi tersebut sekaligus memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspor sawit nasional ke Arab Saudi.
Sawit Indonesia Kuasai 38 Persen Pasar Arab Saudi, Cuan Miliaran Dolar Mengalir
Diskusi pembaca untuk berita ini