Jakarta, elaeis.co - Sawit Indonesia makin menunjukkan taringnya di pasar Arab Saudi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat minyak sawit atau minyak nabati Indonesia menguasai 38,29 persen pangsa pasar impor Arab Saudi dengan nilai mencapai US$706,47 juta.
Posisi tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu pemasok utama minyak sawit ke Arab Saudi. Pangsa pasar Indonesia bahkan jauh lebih besar dibandingkan negara pesaing, termasuk Malaysia yang hanya menguasai 12,74 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan minyak sawit menjadi salah satu komoditas Indonesia dengan posisi paling kuat di pasar Arab Saudi.
"Untuk minyak sawit atau minyak nabati, Indonesia menguasai pangsa pasar sekitar 38 persen yang jauh di atas Malaysia, Ukraina maupun Oman. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama untuk komoditas ini," ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (6/8).
Berdasarkan data BPS, nilai impor minyak sawit Arab Saudi dari Indonesia mencapai US$706,47 juta. Dengan pangsa pasar 38,29 persen, artinya lebih dari sepertiga kebutuhan impor minyak sawit Arab Saudi dipasok dari Indonesia.
Sementara itu, Malaysia berada di posisi berikutnya dengan pangsa 12,74 persen. Ukraina menguasai 7,69 persen dan Oman 5,98 persen.
Dominasi tersebut menjadi peluang besar bagi industri sawit nasional untuk terus memperluas pasar ekspor, terutama ke kawasan Timur Tengah. Terlebih, permintaan Arab Saudi juga berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi dan konsumsi selama penyelenggaraan haji dan umrah.
Meski memiliki sejumlah komoditas unggulan, BPS menyebut Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan posisi perdagangan secara keseluruhan. Saat ini Indonesia baru menempati peringkat ke-18 sebagai pemasok barang terbesar ke Arab Saudi.
Sawit Indonesia Kuasai 38 Persen Pasar Arab Saudi, Cuan Miliaran Dolar Mengalir
Diskusi pembaca untuk berita ini