Bogor, elaeis.co - Tuduhan bahwa kelapa sawit menjadi tanaman boros air sekaligus pemicu utama banjir kembali dibantah oleh kalangan akademisi.
Guru Besar IPB University, Prof Hendrayanto, menegaskan bahwa berbagai bencana hidrometeorologis seperti banjir, longsor, dan kekeringan tidak bisa disederhanakan penyebabnya pada satu komoditas, termasuk sawit.
Menurutnya, faktor utama justru berasal dari kerusakan ekosistem, perubahan tata guna lahan, hingga dampak anomali iklim global.
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di IPB University, Prof Hendrayanto memaparkan hasil kajian hidrologi mengenai penggunaan air pada tanaman kelapa sawit serta dampaknya terhadap sistem tata air di kawasan perkebunan.
Ia menjelaskan, berdasarkan pengukuran transpirasi dan evapotranspirasi, kelapa sawit memiliki tingkat penggunaan air yang relatif setara dengan tanaman perkebunan maupun kehutanan lainnya.
“Tanaman kelapa sawit tidak boros air karena laju transpirasinya sebanding dengan tanaman lain seperti karet, mahoni, dan akasia,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip Minggu (3/5).
Temuan ini sekaligus menepis anggapan yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa sawit mengonsumsi air secara berlebihan dan menjadi penyebab terganggunya keseimbangan air tanah.
Tidak hanya pada level tanaman, penelitian juga menunjukkan bahwa daerah tangkapan air (DTA) yang didominasi perkebunan sawit tidak menunjukkan kondisi hidrologi yang lebih buruk dibandingkan wilayah dengan komoditas lain seperti karet.
Dengan kata lain, perubahan aliran air, resapan, maupun limpasan permukaan lebih dipengaruhi oleh kondisi pengelolaan lahan secara keseluruhan, bukan semata jenis tanaman yang dibudidayakan.
Prof Hendrayanto menegaskan, akar persoalan lingkungan yang kerap dikaitkan dengan sawit justru berada pada perubahan bentang alam akibat konversi dan degradasi hutan hujan tropis.
Transformasi hutan menjadi berbagai bentuk penggunaan lahan, baik perkebunan, permukiman, maupun kawasan monokultur dapat mengubah siklus hidrologi secara signifikan.
Selain itu, faktor lain seperti eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, lemahnya penataan ruang, serta perubahan iklim global turut memperbesar risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
Untuk mengurangi risiko degradasi lingkungan, Prof Hendrayanto mendorong penerapan pengelolaan lanskap terpadu. Pendekatan ini mencakup penataan ruang berbasis daerah aliran sungai (DAS) serta penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya alam.
Dengan pendekatan tersebut, keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan ekologis diharapkan dapat terjaga secara berkelanjutan, termasuk di wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit.
"Yang dibutuhkan adalah pengelolaan lanskap yang terintegrasi, bukan menyederhanakan masalah pada satu komoditas,” tegasnya.
Sawit Penyebab Banjir dan Rakus Air Dipatahkan Guru Besar IPB, Ini Fakta Ilmiahnya
Diskusi pembaca untuk berita ini