Seperti diketahui, sosialisasi Bursa CPO Indonesia di Medan itu dikemas dalam dua acara. Pertama, acara Kupas Tuntas Bursa CPO di Indonesia bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) pada 16 Mei 2024. Sehari berikutnya, 17 Mei 2024, digelar Sosialisasi Bursa CPO bersamaan dengan Rapat Anggota Tahunan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Direktur ICDX, Yugieandy T Saputra, dalam keterangannya kepada media, Senin 20 Mei 2024, mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari sosialisasi yang dijalankan ICDX terkait pelaksanaan Bursa CPO di Indonesia.

Dalam sosialisasi itu, ICDX  menyampaikan tentang mekanisme perdagangan CPO di bursa dan manfaat yang bisa diterima pelaku yang melakukan transaksi CPO di bursa.

Menurut Yugieandy, hal itu sebagai upaya menjawab tantangan bahwa selama ini pelaku CPO dan/atau kelapa sawit di Indonesia sudah terbiasa dengan transaksi Business to Business (B2B) yang berbeda dengan di bursa.

Ia berharap, pelaku CPO yang ada di wilayah Sumatera Utara ini ke depan dapat memanfaatkan mekanisme perdagangan pasar fisik CPO.

Dengan mekanisme ini, pembeli maupun penjual akan bertemu dalam platform perdagangan di bursa, sehingga terjadi pembentukan harga (price discovery) yang kemudian akan terjadi harga acuan (price reference). Harapannya, harga yang tercipta di bursa akan menjadi rujukan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani sawit.

Sosialisasi dilakukan di Medan karena ICDX menilai wilayah Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam pengembangan Bursa CPO. Ini terlihat dari jumlah pengusaha perkebunan kelapa sawit, serta luasan wilayah perkebunan yang di sana.

Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara tahun 2022 menyebutkan luas perkebunan kelapa sawit di provinsi ini mencapai 1.379.442 hektar. Pada tahun yang sama, tercatat 327 perusahaan perkebunan sawit. 

Menurut rencana, kegiatan sosialisasi seperti ini  akan terus dijalankan secara berkesinambungan ke berbagai daerah yang menjadi sentra perkebunan kelapa sawit, dengan  melibatkan regulator serta pemangku kepentingan lainnya di industri CPO.

Diharapkan, gencarnya sosialisasi seperti ini akan dapat mendorong para pelaku usaha sawit untuk terjun ke bursa CPO. Pasalnya, saat ini, jumlah anggota Bursa CPO Indonesia terbilang minim. 

Sejak diresmikan Oktober 2023, tercatat baru 48 anggotanya. Padahal, secara nasional terdapat sekitar 2.294 perusahaan sawit, termasuk 727 di antaranya yang merupakan anggota Gapki.

Minimnya anggota tentu berakibat minimnya pula volume transaksi. Data dari ICDX menyebutkan sampai dengan Kuartal I tahun 2024 transaksi yang terjadi sebanyak 3,962 lot, setara dengan 19.810 ton CPO dengan perhitungan 1 lot = 5 ton.