Waktu itu, produktifitas rata-rata tanaman kata lelaki 49 tahun ini, sudah 22 ton per hektar per tahun. "Tahun lalu, tanaman sudah berumur 6 tahun. Produktifitas pun sudah ada yang di angka 27 ton per hektar per tahun. Bisa jadi itu di atas 28 ton per hektar per tahun lantaran belum dihitung potongan wajib di pabrik," terangnya. 

Bambang tak menampik, meski semua tanaman diperlakukan cenderung sama, namun produktifitasnya tetap saja beda-beda. Yang 27 ton per hektar per tahun tadi berada di Desa Bumi Kencana. 

Tapi itu tadi, kalau dipukul rata semua desa, rata-rata produksi tahun lalu sudah di angka 22 ton per hektar per tahun. 

Lantaran produksi sudah berada di angka segitu, tahun ini kata Bambang, mereka akan menggenjot produksi. Yang sudah 27 ton per hektar per tahun, akan digenjot menjadi 30 ton per hektar per tahun.  

Soal rendemen kata Bambang, enggak sulit mendapatkan 27%. Kalau brondolan saja sudah 30-35%, angka segitu bisa didapat. "Tapi itu rendemen murni. Rendemen teknis belum tentu," ujarnya. 

Balik ke apa yang diterakan oleh produsen benih pada label benihnya menurut Bambang, itu bisa dicapai bila dalam ferforma tertinggi dengan kondisi terbaik. 

Target PPKS kata, produktifitas umur tanaman 6 tahun pada lahan S3 hanya 19 ton per hektar per tahun, lahan S2 21 ton per hektar per tahun dan lahan S1 23 ton per hektar per tahun. 

"Kami, semua lahan S3, tapi produktifitas kami sudah di atas lahan S1," lelaki ini tertawa. Intinya begini, dengan perlakukan standar (enggak usah mencapai GAP), kita bisa mencapai angka yang dibikin penyedia benih itu. Yang penting dengan upaya yang sesuai. Hanya saja, butuh pembuktian pada skala tertentu," ujarnya. 

Lantas apa yang membikin Bambang dan kawan-kawan bisa mencapai produktifitas dan rendemen segitu? "Perawatan yang kami lakukan tidak di atas standar. Kami pakai otaknya petani, bukan perusahaan. Misalnya pemberantasan gulma, perawatan piringan. Kalau gulma masih pendek, dibiarkan saja dulu," terangnya. 

Terus soal pupuk. Pupuk memang enggak bisa ditawar-tawar. "Walau kami pernah telat (tiga bulan), itu nggak disengaja, tapi karna kondisi. Itu saja sedikit telat, kami masih bisa dapat produktifitas segitu," ujarnya. 

Yang terakhir dan yang paling penting adalah manajemen. "Yang kami kelola ini adalah lahan banyak orang, di enam desa. Kami harus jujur, harus kompak dan musti selalu menjaga kekompakan itu. Alhamdulillah kami bisa," katanya.