Iptek 

Mahasiswa Universitas Pertamina Buat Kapasitor Dari Kulit Salak

Mahasiswa Universitas Pertamina Buat Kapasitor Dari Kulit Salak
Andrea Hanna Rinindita saat mengikuti praktikum di Laboratorium Kimia Terintegrasi (Universitas Pertamina)

Jakarta, Elaeis.co - Limbah kulit buah salak ternyata bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi. Adalah Andrea Hanna Rininditia, mahasiswa Program Studi Kimia Universitas Pertamina, yang membuat kapasitor, yakni komponen yang berfungsi menyimpan muatan listrik, dengan memanfaatkan limbah kulit salak.

“Kulit salak kaya akan senyawa karbon. Senyawa ini merupakan bahan penyusun yang baik untuk kapasitor. Kapasitor bank yang menggunakan superkapasitor dari limbah kuit salak ini berpotensi memuat energi listrik dalam jumlah yang lebih besar,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Elaeis.co.

Dalam merancang inovasi energi baru dan terbarukan (EBT) tersebut, Dea menggunakan metode kimia komputasi. Lewat simulasi komputer, proses uji coba produksi senyawa karbon dari limbah menjadi lebih optimal, hemat waktu, dan hemat biaya. 

Inovasi tersebut diharapkan memberikan kontribusi terhadap upaya merealisasikan target bauran EBT yang ditetapkan pemerintah sebesar 23 persen di tahun 2025 mendatang.

Pemerintah sendiri terus menggenjot pencapaian target tersebut. Dewan Energi Nasional (DEN) menyebutkan, hingga Desember 2020 bauran EBT baru mencapai 11,20 persen. 

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pemerintah telah berhasil menambah kapasitas pembangkit EBT sebesar 1.478 megawatt. Persentase kenaikan rata-rata setiap tahun ditaksir mencapai 4 persen. Pada semester pertama tahun 2021, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat kapasitas pembangkit EBT naik sebesar 217 megawatt. 

Selain membantu akselerasi target capaian bauran EBT, inovasi kapasitor tersebut menurut Dea juga berpotensi membantu pemerintah dalam pemenuhan Sustainable Development Goals (SDGs) point tujuh. Yakni memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, dan berkelanjutan.

“Inovasi ini, saya harapkan, juga dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang belum terjangkau jaringan PLN di Indonesia. Sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia untuk mencapai pembangunan kota dan permukiman yang inklusif, aman, serta berkelanjutan, sesuai dengan SDGs point ke-11,” tutur Dea.

Inovasi tersebut mengantarkan Dea meraih juara 2 dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (Pilmapresnas) 2021 Tingkat LLDIKTI Wilayah III. Dea juga berkesempatan maju ke seleksi tingkat nasional.

“Ide inovasi ini muncul ketika saya mengikuti mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi dan Statistika yang mempelajari bahasa pemrograman. Selain itu, mata kuliah lain seperti Kimia Pemodelan dan Analisis Data yang berfokus pada kimia komputasi, juga mendorong semangat saya untuk membawa penelitian ini ke tahap yang lebih serius,” ungkapnya.

Di Universitas Pertamina, mahasiswa telah dibiasakan untuk berinovasi sejak dini. Selain melalui metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), mahasiswa juga seringkali dilibatkan dalam proyek penelitian gagasan para dosen.

Disamping itu, dukungan untuk keterlibatan mahasiswa di berbagai ajang inovasi juga diberikan secara penuh. Melalui kegiatan magang, mahasiswa juga diberikan ruang berinovasi untuk memecahkan masalah riil yang terjadi di dunia usaha dan dunia industri.

Bagi siswa siswi SMA yang ingin berkuliah di kampus besutan PT Pertamina (Persero) tersebut, saat ini tengah dibuka Seleksi Nilai UTBK, Seleksi Nilai Rapor, dan Ujian Masuk Berbasis Daring untuk Periode September Tahun Akademik 2021/2022. Informasi lengkap pendaftaran dapat diakses di laman https://universitaspertamina.ac.id/pendaftaran. Universitas Pertamina juga memberikan beragam beasiswa yang informasinya dapat diakses di website resmi Universitas Pertamina.

Editor: Rizal