
--Sudarsono Soedomo--
Ada kecenderungan menarik dalam diskursus koperasi belakangan ini: semakin koperasi sulit berkembang dalam praktik, semakin canggih bahasa yang digunakan untuk menjelaskannya. Kita disuguhi metafora kompleksitas, non-linearitas, bahkan istilah-istilah yang dipinjam dari fisika modern—seakan-akan masalah koperasi terletak pada cara kita melihat, bukan pada cara koperasi itu dirancang.
Padahal, sebagian besar orang yang menulis dengan bahasa secanggih itu sebenarnya tidak naif. Mereka paham teori institusi. Mereka tahu soal hak residual, insentif manajerial, masalah akumulasi modal, dan beban pengambilan keputusan kolektif. Mereka mengerti bahwa organisasi berbasis keanggotaan luas hampir selalu menghadapi batas skala yang keras, bukan karena kurang niat baik, melainkan karena desain kelembagaannya sendiri.
Justru karena pemahaman itu, muncul pertanyaan yang lebih menarik: mengapa keterbatasan struktural koperasi jarang dibicarakan secara lugas?
Salah satu jawabannya barangkali sederhana dan manusiawi. Koperasi bukan sekadar objek kajian, tetapi juga basis eksistensi kelembagaan: fakultas, program studi, pusat riset, dan karier akademik. Dalam kondisi seperti ini, kritik yang terlalu jujur dapat terasa seperti memotong cabang tempat kita duduk. Maka yang lebih aman adalah memindahkan persoalan dari ranah desain institusi ke ranah epistemologi—dari “apa yang salah” menjadi “cara kita memahami yang belum memadai”.
Di titik inilah metafora berperan penting. Dengan menyebut koperasi sebagai sistem relasional yang kompleks dan kontekstual, kegagalannya untuk berkembang lintas wilayah atau lintas skala dapat dibaca bukan sebagai masalah desain, melainkan sebagai konsekuensi alamiah dari keunikan sosial. Jika koperasi tidak replikatif, itu bukan karena ia rapuh, tetapi karena ia terlalu kaya makna untuk direplikasi begitu saja.
Narasi ini terdengar elegan, bahkan simpatik. Namun ada harga yang dibayar: kita berhenti bertanya apakah struktur koperasi itu sendiri memang membatasi potensinya.
Ambil contoh keberhasilan koperasi kredit di beberapa wilayah tertentu. Ia tumbuh cepat, stabil, dan berakar kuat pada jaringan sosial lokal. Tetapi ketika mendekati batas tertentu—jumlah anggota, ragam layanan, atau jarak sosial—pertumbuhannya melambat, bahkan berhenti. Fenomena ini tidak asing. Dalam ekologi, kita menyebutnya spesies yang tumbuh cepat di habitat yang cocok, lalu mencapai titik jenuh. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang keliru adalah menyimpulkan bahwa keberhasilan lokal tersebut otomatis mengandung hukum umum.
Masalahnya, dalam diskursus koperasi, keterbatasan ini sering dirayakan sebagai kebajikan: bukti bahwa koperasi “berbeda” dari organisasi ekonomi lain. Padahal bisa jadi, ia hanya berbeda karena memang terikat oleh desainnya sendiri.
Di sinilah ironi kecil muncul. Ekonomi arus utama kerap dikritik karena terlalu menyederhanakan manusia. Namun dalam membela koperasi, kita justru berisiko melakukan penyederhanaan lain: mengubah persoalan struktural menjadi persoalan cara pandang. Ketika koperasi sulit berkembang, kita mengatakan dunia terlalu sempit untuk memahami koperasi—bukan koperasi yang terlalu sempit untuk dunia yang berubah.
Tulisan-tulisan yang berusaha mengangkat koperasi ke tingkat paradigma baru tentu patut diapresiasi. Setidaknya, ia lebih bernalar daripada retorika normatif yang hanya mengulang slogan. Tetapi tetap ada satu langkah yang sering tidak diambil: mengatakan secara terbuka bahwa koperasi, dalam bentuk yang dominan saat ini, memang dibatasi oleh arsitektur institusinya sendiri.
Mengatakan itu memang tidak menyenangkan. Ia tidak heroik. Ia juga tidak inspiratif bagi poster seminar. Namun justru di sanalah letak kejujuran intelektual yang paling dibutuhkan. Bukan untuk membunuh koperasi, melainkan untuk membebaskannya dari ilusi bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan bahasa yang lebih indah.
Mungkin koperasi tidak membutuhkan metafora baru. Mungkin ia hanya membutuhkan keberanian lama: keberanian untuk mengakui batas, sebelum berbicara tentang kelahiran ilmu.
(mBlambangan Ekspres, 07022026)
Tentang Koperasi, Metafora, dan Batas Kejujuran Institusional
Diskusi pembaca untuk berita ini