Tapi yang bikin gregetan, Andrianto bilang hutang perseroan justru semakin meningkat seiring melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD) sebesar 7 persen selama paruh pertama tahun 2024.
Andrianto Oetomo menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah tersebut memang berdampak pada peningkatan nilai total hutang USD perseroan yang ditransaksi ke dalam Rupiah pada tanggal pelaporan buku, sesuai dengan ketentuan standard akuntansi yang berlaku.
Padahal, ucapnya, sebenarnya hutang USD perseroan justru mengalami penurunan sebesar 12 persen dibandingkan akhir tahun 2023 seiring dengan pembayaran angsuran pokok.
Baca juga: Semester I 2022, Laba DSNG Naik 119%
Hingga akhir Juni 2024, Andrianto membeberkan kalau saldo hutang USD perseroan berkisar 20 persen dari total hutang perseroan.
Tapi Andrianto Oetomo tidak khawatir terhadap kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban pembayaran hutang USD yang jatuh tempo.
"Hal ini mengingat total kewajiban pembayaran tersebut hanya berkisar 25 persen dari total pendapatan dalam USD yang dihasilkan oleh segmen usaha produk kayu dan renewable energi sehingga terjadi natural hedging,"ucapnya.
Sementara itu, performa positif DSNG juga mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, baik terkait kinerja finansial maupun kinerja di bidang keberlanjutan.
Baca juga: DSNG Klaim Produk Sawitnya 100 Persen RSPO-ISPO
Pada bulan Mei 2024 yang lalu, ia menambahkan, DSNG berhasil mendapatkan penghargaan dengan predikat Green Elite dan Platinum Plus.
Penghargaan tersebut, kata dia, dari InvestorTrust.Id yang bekerja sama dengan Bumi Global Karbon (BGK) untuk upaya pengungkapan dan penurunan emisi karbon Perseroan.
"Baru-baru ini, DSNG kembali masuk ke dalam konstituen Index Tempo – IDN Financial 52 untuk kedua kalinya dengan kategori High Dividend," ucap Andrianto.
Tiga Produk Turunan Sawit Ini Bikin Dompet DSNG Makin Tebal
Diskusi pembaca untuk berita ini