MEDAN, elaeis.co - Industri perkebunan kelapa sawit nasional dinilai memiliki peluang besar untuk berkiprah dalam Bursa Karbon Indonesia yang telah memasuki usia satu tahun pada September 2024 lalu.

"Perlu diketahui bahwa industri sawit nasional kita sebenarnya pumya karbon positif, dan ini tentu sebuah peluang besar jika mereka mau aktif di Bursa Karbon Indonesia," ucap Muhamad Pintor Nasution kepada elaeis.co, Selasa (8/10/2024).

Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Sumatera Utara (Sumut) ini mengakui pernah bertemu dengan sejumlah pelaku usaha industri sawit di kota Medan beberapa waktu yang lalu. 

"Jadi di situ mereka saya pertemukan dengan  divisi di BEI yang terkait dengan Bursa Karbon. Mereka ingin tahu dan mempertanyakan banyak hal tentang Bursa Karbon," kata Pintor lebih lanjut. 

"Dalam pertemuan dan diskusi itu mereka menunjukan minat ingin ikut berpartisipasi dan ingin tahu caranya bagaimana (ikut Bursa Karbon, - red)," kata dia menambahkan.

Pintor mengungkapkan bahwa sejauh ini emiten di Bursa Karbon baru ada dua perusahaan, dan merupakan anggota dari badan usaha milik negara (BUMN), yaitu PT Pertamina dan PT PLN.

"Transaksinya juga masih kecil banget, cuma Rp 39 miliar. Karena iti harapannya agar industri lainnya, termasuk kelapa sawit, bisa berkecimpung juga di Bursa Karbon," kata Muhamad Pintor Nasution.

Sebagai informasi saja, pada 26 September 2023 lalu Bursa Karbon telah diluncurkan dan menjadi inisiatif dan bagian penting dari upaya Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim.