Sanggau, elaeis.co - Petani kelapa sawit di Kabupaten Sanggau sangat merasakan dampaknya musim kemarau tahun ini. Selain produksi kebun kelapa sawitnya turun, petani juga harus gigit jari lantaran harganya juga murah.
Selain produksi rendah dengan harga jual yang rendah tadi, petani juga masih harus dihadapkan dengan proses distribusi yang sulit.
Cerita Ketua Apkasindo Sanggau, Mahathir Muhammad mayoritas infrastruktur angkutan kelapa sawit di wilayahnya itu adalah melewati sungai. Dimana TBS kelapa sawit harus diangkut menggunakan ponton/kapal tradisional.
"Jadi kalau musim kemarau begini kebanyakan sungai mengalami kekeringan. Akhirnya ponton yang biasa digunakan untuk mengangkut sawit sulit beroperasi," tuturnya saat berbincang dengan elaeis.co, Kamis (20/8)
Sementara jika menggunakan jalur darat untuk menuju PKS, maka membutuhkan waktu lebih lantaran jaraknya yang jauh. Sedangkan jika dipaksakan melalui jalur air, maka ponton tidak bisa berjalan lantaran air sungai dangkal, sehingga ponton kandas dengan pasir sungai.
"Ini seharusnya juga perlu dicarikan solusi oleh pemerintah. Sehingga tidak setiap tahun petani menjadi korban," paparnya.
Akibat kondisi itu, harga sawit masyarakat tertekan. Saat ini paling rendah harga yang ditawarkan oleh PKS sebesar Rp2.900/kg. Ini akan lebih rendah lagi jika sampai ke tangan petani. Sebab petani menjual hasil kebunnya di ramp atau tengkulak.
Petani Sanggau Dilema Saat Musim Kemarau
Diskusi pembaca untuk berita ini