Siku Kata 

Canda-Tawa: Karnaval

Canda-Tawa: Karnaval
Suasana nan lengang. foto: bbc.

Gelak-tawa, sorak-sorai, iring-iringan orang yang bergerak dalam jumlah banyak pada sebatang garis lurus yang diselingi tambur, kompang, dentuman dan auman loud speaker seakan lenyap, lesap dan menghilang dari pandangan sejak dua tahun ini. Tak di desa, juga di kota-kota yang mengubah dunia.

Ahgrrr,… yang benar? Tapi masih tersisa gelak-tawa di café, kedai kopi, pusanika dalam gaya berpencar.

Tersebab pandemic Covid-19, gelak-tawa, canda-tawa, sorak-sorai dalam sejumlah iringan karnaval minggir sejenak pada sebuah halte beringus. Tempat rehat yang berdebu. 

Kita bersua dalam kaidah hidup yang serba berhati-hati, namun penuh curiga. Kalau pun maksa bercanda yang menghasilkan tawa dan sorak-sorai, senyum dan tawa itu, tetap ditabiri oleh selembar pembukus bernama masker (mask).

Ekspresi suka-cita, duka-cita, girang dan cerlang, diterjang ke dalam (diri), bukan sesuatu yang mesti disemburkan ke luar. Begitulah…

Mikhail Bakhtin, seonggok nama yang menggoda dalam telaah canda-tawa sebagai tabiat dasar dari sebuah karnaval atau boleh disetarakan dengan gaya “pawai ta’aruf”

Pilar utama dari sebuah karnaval adalah gelak dan canda-tawa, sorak-sorai menggelegar. 

Bertanyalah pada diri sendiri selaku petani Sawit, pekebun Coklat, Porang atau apa saja produk-produk yang dianggap seksi oleh rezim penguasa pada sebuah zaman, sudah berapa kali terbabit dalam lelaku karnaval saban masuk perayaan “hari-hari suci” nasional? 

Karnaval dijadikan sebagai alat ekspresi sekaligus pecitraan tahta sebuah rezim. 

Dalam karnaval, ada ruang untuk bersorak, menggempitakan keriangan semu, karena gelak-tawa dan segala jenis sorak di dalam karnaval, tak memiliki obyek. Bahkan dia berpembawaan ambivalen (kemenduaan).

Kunci dari struktur sebuah karnaval adalah ambivalensi itu sendiri. Kian meninggi nilai ‘kemenduaan’ sebuah karnaval, maka kian bernilai dia di mata rezim, di mata pelaku dan pelaksana. 

Namun, sejak pandemic Covid-19 menggulung, dampak ikutannya; gelak-tawa dan karnaval itu sendiri tengah menggelung dalam ruang sunyi, gudang hapak dan halte berdahak. 

Canda dan gelak-tawa itu tak semata bersifat parodi, ironis, satiris. Kristeva menyelesaikan proyek logika karnaval ini bukan soal benar atau salah, logika ilmiah atau keseriusan kuantitatif dan kausal, akan tetapi malah menyajikan logika-kualitatif-kemenduaan; bahwa pada saat yang sama sang aktor sekaligus bertindak selaku penonton.

Penghancuran kreativitas, kematian dianggap sebagai kelahiran kembali. Maka, hebohlah orang-orang yang terlibat di dalam sebuah karnaval untuk menemukan diri sendiri; siapa daku, kenapa daku, bagaimana daku, mau kemana daku?

Karnaval tak terhubung dengan semangat oposisi, sekaligus tak jua pribadi. Dia bukan sebuah peristiwa formal (resmi). Bukan pula sebuah injab untuk mengisi masa senggang, sebagai sebuah upaya untuk membangun elakan dari kehidupan normal. 

Dia bukan pula sebuah festival demi memperkuat tampilan hierarkhis sebuah rezim yang berdampak pada kehidupan sehari-hari; memperlebar nganga antara si tuan dan hamba, kaya dan miskin. 

Ujar Bakhtin lagi; bahwa karnaval yang berjurai gelak-tawa itu bukanlah hasil dari sebuah kekuasaan formal (terkesan amat serius) yang mengkukuhkan kekuasaannya merujuk pada prinsip “roti dan sirkus” (makan dan hiburan). Sebab, orang-orang atau pun kita sendiri adalah ‘karnaval” itu sendiri. Haiyyaaa…

Secara sepintas, kita merasa terhibur dan mendapat wisata lipur-lara dari setandan karnaval yang terhidang. Seakan tiada kehidupan di luar karnaval. 

Maka dia menyorong racun bagi kehidupan, bak mariyuna, setiap orang menanti sekaligus merindukan datangnya karnaval pada tahun-tahun berikutnya. 

Carnaval de Rio (Brazil) setara agama, selain sepak bola. Kedayaan ‘mendua’ dari karnaval ini membuat orang-orang secara bersamaan bertindak dalam moda ‘selingkuh abadi’; aktor sekaligus penonton. Bersorak, sekaligus disorak. Mentertawai sekaligus ditertawai. Mencemeeh sekaligus dicemeeh. Bercanda, sekaligus dicanda, menggerutu, sekaligus digerutu. Kekanak-kanakan kah, infantile kah, labirin dan cul-de-sac kah?

Gelak-tawa, sorak-sorai dari sebuah karnaval juga terarah pada orang-orang yang tertawa; selain obyek tawa, sekaligus subyek tawa. 

Dia memanggul kematian sekaligus merangkul kehidupan. Paling ironi dari semua itu, bahwa karnaval itu merangkul segala nan rendah; terutama ketika datangnya era modern.

Canda-tawa bersumber dari mata air kasta rendah, klas oketai, sesuatu yang keluar dan datang dari klas rendah, murahan dan serba kodian. Sebuah dunia yang tertutup, sekaligus terbuka. 

Gerakan antara liang rahim dan liang kubur yang sama-sama dipuja dalam sebuah inisiasi kegelapan (tugas reproduksi dan siklus kehidupan). 

Dia meringkus sesuatu yang luhung, tinggi, serius dan matan (dalam sebuah labor/makmal, gelak-tawa, sorak-sorai dihindari).

Teringat badut, topeng? Itulah wilayah ‘pertuanan’ para tokoh karnaval; mereka berada di sempadan antara seni dan kehidupan, yang  menjalani serangkaian ‘kegilaan’ (madness, bahkan maniac). 

Di situ berpadu ‘kenisbian’ sekaligus citra akan ‘reinkarnasi’. Alhasil, topeng dijalani sebagai ekspresi demi merayakan kegembiraan atas perubahan dan reinkarnasi; meringkus kesamaan, kemiripan dan keseragaman. 

Topeng menutupi dan mengubah obyek, berkat kemenduaannya di dalam karnaval. Sebuah jalan distorsif yang disemburkan oleh ‘dunia topeng”. 

Topeng-topeng yang bergentayangan dalam iring-iringan karnaval menyingkapkan diri dan bermain dalam sejumlah kontradiksi, menciutkan pemahaman sebagai dirinya sendiri, transisi, matamorfosis, menghapus sempadan alami, dunia ecek-ecek, olok-olokan dan nama glamour (sapaan panggung).

Manusia tak (lagi) sanggup menampilkan dirinya secara utuh, jujur, hangat, ramah dalam ‘ketunggalannya” (singularitas) yang sejati.

Teringat lagi dengan Karnival Johor (era 80-an) di Semenanjung sana; masih adakah secebis “Bidadari Ledang ku”? 

Dalam keutuhan, kejujuran, singularitas. Adakah sorak-sorai, canda-tawa sepanjang lorong rerimbun temaram sawit Johor, Pahang, jua Riau, Sumut dan Jambi yang mengelak sejumlah topeng yang dirangkai dalam tindak-laku karnaval untuk melawan karnaval bisnis sawit dari Masyarakat Eropa? 

Bahwa sebuah karnaval, tak mesti dijawab dengan jenis karnaval pula…

Kita mengelak canda-tawa dalam pertikaian bisnis sawit sebagai sebuah karnaval, demi menunjukkan diri bahwa (dalam tradisi dialog dan diplomasi), kita bukan berasal dari klas rendahan, apatah lagi kasta murahan… 



 

Editor: Abdul Aziz