Tentang Aku 

Cerita Lisombe Yangambi

  • Reporter Aziz
  • 16 November 2021
Cerita Lisombe Yangambi
Tampak udara gedung administrasi INERA, bekas perpustakaan INEAC di Yangambi. foto: cifor.org

Aku sangat berterimakasih kepada Nikolaus Joseph von Jacquin yang telah mengklasifikasi marga (Genus) ku menjadi 'Elaeis' dalam ilmu tumbuh-tumbuhan (botani) pada tahun 1763. 

Gara-gara keberhasilan lelaki kelahiran Leiden Belanda itu mengklasifikasikan aku lah makanya ada embel-embel 'jacq' dalam nama panjangku itu; Elaeis Guineensis Jacq, begitu selengkapnya. 

Pada tahun 1976 Corley menulis, bahwa keluarga besar kami adalah Palma Monokotil 'Arecaceae'. Sementara ini keturunan asli kami cuma dua; aku, 'Elaeis Guineensis' serta saudaraku;'Elaeis Oleifera'. Dia ini disebut orang juga; Elaeis Melanocca 

Banyak orang bilang saudaraku ini bertebaran di Amerika Selatan dan Tengah, dari Honduras hingga Brasil bagian Utara. Belakangan, ada juga terdengar nama Elaeis Odora atau Barcella Odora, kabar yang aku dapat, dia kelahiran Amerika Selatan. 

Pada tahun 1977, Charles William Stewart Hartley sudah menuliskan silsilah kami (Guineensis-Oleifera) dalam bukunya The Oil Palm. Hanya saja, belum ada hasil penelitian yang bisa memastikan siapa di antara kami yang lebih tua. 

Apakah aku yang lahir di Guinea yang lebih tua, atau Oleifera. O ya, yang membikin nama Oleifera ini adalah Carl Sigismund Kunth, ahli Botani Jerman. Dia tergolong orang pertama yang mengklasifikasi tanaman di benua Amerika. 

Secara umum, karakteristik kami bisa ditengok dalam dua hal; ketebalan endokarp dan warna buah. Kalau berdasarkan ketebalan endokarp tadi, kami digolongkan menjadi lima varietas; Dura, Pisifera, Tenera, Macro Carya dan Dwikka Wakka. Hutgers dan Yampolski yang menggolongkan ini.

Macro Carya atau yang sering juga disebut type Congo, cangkangnya lebih tebal dari Dura. Kalau tebal cangkang Dura 2-5mm, Macro malah 4-8mm. 

Dwikka Wakka. Yang satu ini unik typenya. Selain lapisan dagingnya dua, ada pula dia dalam bentuk Dwikka Wakka Dura, Psifera dan Tenera.     

Dura sering disebut induk betina, buahnya bercangkang tebal. Psifera dinamai induk pejantan. Induk jantan ini enggak punya cangkang buah sama sekali. 

Kalau keduanya kawin, hadirlah yang namanya Tenera. Si anak ini bercangkang tipis. Minyaknya 30% lebih banyak dari induknya. 

Enggak dari sisi itu aja kami bisa dibedakan. Berdasarkan warna buah kata Vanderwejn, varietas kami dibagi tiga; Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Waktu masih muda, buah si Nigrescens ini berwarna ungu hingga hitam. 

Tapi kalau sudah matang, akan berwarna jingga kehitam-hitaman. Varietas ini yang kebanyakan ditemukan pada Tenera yang kini menjadi tanaman kelapa sawit pavorit di Indonesia. 

Kalau si Virescens, sewaktu muda, buahnya berwarna hijau. Tapi setelah matang, warnanya berubah menjadi jingga kemerahan meski ujungnya tetap kehijauan. Varietas ini jarang ketemu di lapangan. 

Albescens, selagi muda buahnya berwarna keputih-putihan. Tapi setelah matang, akan beurbah menjadi kekuning-kuningan dan ujungnya berwarna ungu kehitaman.

Balik ke ceritaku sebelumnya, pada 1907 William Lever sudah mencari konsesi tanah di koloni-koloni Inggris di Afrika Barat. Kata Hancock 1942 dan Wilson 1954 dalam tulisan mereka, Lever ingin membangun pabrik minyak sawit untuk kebutuhan pabrik sabunnya 'Lancashire'

Baca juga: Heiii..., Ini Aku, Elaeis!

Tapi rencana Lever tak berterima di hati kantor kolonial dan diapun hengkang ke wilayah jajahan Belgia, Kongo Belgia  yang sekarang telah menjadi Republik Demokratik Kongo. Dari sinilah cikal bakal revolusi industri minyak kami bermula, persis setelah Lever Brothers berubah nama menjadi Unilever.  

Sebab dari konsesi Unilever dan anak  perusahaannya United Africa Company yang bertebaran di Kamerun Inggris dan Kongo Belgia lah varietas kami; Tenera dihasilkan. 

Kebun Tenera ini sebenarnya tidak ujug-ujug, tapi oleh pengaruh temuan orang Jerman di Kamerun juga terhadap benih kami yang bercangkang tipis. Mereka sering bilang 'Lisombe Palm'

Courade 1977; Fieldhouse 1978, menulis, bahwa pada 1922 Belgia mulai menyelidiki temuan orang jerman itu. Kebun percontohan Tenera dibikin di stasiun penelitian Yangambi. Sekarang masuk dalam wilayah Isangi Provinsi Tshopo, Kongo. 

Tiga tahun M. Beirnaert melakukan pengujian Tenera ini hingga kemudian dia membuktikan bahwa si Tenera itu sebenarnya hibrida dari Dura bercangkang tebal dan Pisifera tanpa cangkang. Penyerbukan akan menghasilkan 50 persen Tenera, 25 persen Dura, dan 25 persen Pisifera. Begitu yang ditulis Beirnaert dan Vanderweyen 1941.



 

Editor: Abdul Aziz