Lantaran kondisi semacam itu pula, tak aneh kalau petani selalu berhadapan dengan 'serangan' ternak yang ngiler menengok hijaunya dedaunan tanaman kelapa sawit mereka.   

Bermula dari kebun kelapa sawit Kelompok Tani Makmur Jaya yang dikomandani oleh Kamaruzaman di kawasan Gampong Tegal Sari Kecamatan Pante Ceureumen. 

Kamar sendiri terpaksa memagar kebunnya yang luasannya sekitar sehektar itu biar tak dimangsa ternak.  Alhamdulillah, saban 15 hari lelaki 52 tahun itu sudah mengangkut sekitar 800 kilogram TBS dari kebun itu. Padahal tanaman itu belum genap 36 bulan.  

Di Gampong Seumara kecamatan yang sama, Amirul Akbar sudah pula bisa memanen sekitar 700 kilogram TBS tiap 15 hari. Umur tanaman sawitnya sama dengan milik Kamaruzaman. 

Said Alwie di antara rerimbunan pohon kelapa sawitnya. foto: aziz

Heri Azmi juga sudah mengangkut 1,2 ton TBS dari kebunnya yang seluas 3,5 hektar. Padahal tanaman sawitnya yang berada di Gampong Mugo Rayek Kecamatan Panton Reu itu masih setahun lebih muda dari milik Kamaruzaman. Sekali dua minggu Heri panen.      

Sumringah Said Alwie di Gampong Peulanteu Lambalek Kecamatan Arongan Lambalek juga merekah. Empat hektar tanaman kelapa sawit lelaki 44 tahun ini juga sudah tumbuh subur dan sudah bisa dipanen. 

Uniknya, bekas kombatan ini sengaja menyisakan 6 batang tanaman sawit tua di kebunnya. "Biar ada bukti kalau dulu kebun saya ini memang kebun kelapa sawit. Nanti disangka pula bekas hutan atau bekas tanaman palawija," ayah 4 anak ini nyengir.     

Tak satupun orang ini menyangka bakal dapat dana hibah peremajaan kebun kelapa sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Itulah makanya awal-awal program itu dikasi tahu oleh Koperasi Produsen Mandiri Jaya Beusaree tadi, banyak petani tak percaya.