Aceh Barat, elaeis.co - Sepanjang program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) ada, ini kali pertama lelaki 50 tahun ini mendengar dan menengok hasil program PSR sebagus itu.
"Luar biasa. PSR nya dikelola sendiri, tanpa duit pinjaman bank untuk sampai ke tahap lanjutan. Ini menandakan kalau mereka sangat berhemat dan cerdas mengelola dana hibah BPDPKS itu," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP-Apkasindo) ini melalui sambungan telepon.
Kebetulan Gulat Medali Emas Manurung sedang mengunjungi petani kelapa sawit di kawasan Aceh Utara.
"Sejak tahun 2016 PSR pertama bergulir, belum pernah saya melihat dan menerima laporan PSR sebagus ini. Semuanya transparan dan kearifan lokal sangat kental terasa," ujar ayah dua anak ini.
Kamaruzaman menengok buah salah satu pohon kelapa sawitnya. foto: aziz
Kekompakan dan kearifan lokal tadi menurut Gulat, menjadi salah satu pemicu keberhasilan program PSR di Aceh Barat itu.
Doktor ilmu lingkungan Universitas Riau ini pun berharap agar upaya-upaya yang dilakukan para petani itu disupport oleh semua pihak, termasuk oleh Aparat Penegak Hukum (APH), biar para petani ini semakin sejahtera.
"Sebab dengan PSR lah petani bisa bangkit dan berlari meningkatkan produktivitasnya, maka alam pun semakin terjaga dan lestari," katanya.
Dua hari lalu, elaeis.co sengaja bertandang ke lokasi program PSR yang dinaungi oleh Koperasi Produsen Mandiri Jaya Beusaree itu.
Lahan kebun kelapa sawit itu tak seperti lahan PSR pada umumnya yang satu hamparan, tapi justru hektaran yang berpencar-pencar di antara permukiman warga.
Cerita Rimbunnya Sawit PSR Bekas Kombatan di Aceh Barat
Diskusi pembaca untuk berita ini