“Google Earth Engine tidak hanya menyediakan data, tetapi juga memungkinkan kita membuat skrip untuk proses pengolahan data, menjadikannya alat yang sangat luar biasa untuk para peneliti,” beber Rokhis. 

“Teknologi geoinformatika telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita, mulai dari memilih rute perjalanan hingga memonitor kondisi lingkungan,” tutur Rokhis melanjutkan.

Kata dia, teknologi ini juga digunakan dalam pemantauan pertanian global, seperti oleh platform Crop Monitoring untuk mengatasi kelaparan di Afrika, serta analisis kebencanaan, seperti oleh Fastflood, yang digunakan untuk mendeteksi potensi banjir dengan akurasi tinggi.

“Namun, tantangan dalam penerapan teknologi ini di Indonesia masih ada, terutama terkait dengan tumpang tindih informasi dan pengambilan keputusan yang kurang akurat,” ujar Rokhis menyindir.

Baca juga: Sampel Air Nira Batang Sawit dari Sungai Aua Diuji di Laboratorium BRIN, ini Tujuannya

Menurutnya, Indonesia adalah negara yang sangat luas dengan keanekaragaman hayati yang besar, sehingga masih banyak tantangan dalam pengambilan keputusan yang akurat.

Oleh karena itu, Rokhis kembali mengingat bahwa GEOMIMO adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mengintegrasikan berbagai sumber data, termasuk yang terkait dengan luas perkebunan sawit.

“Baik mulai dari data citra satelit hingga data hasil penelitian lapangan, dalam satu platform yang bisa diakses oleh berbagai pengguna, baik untuk keperluan penelitian, pengambilan keputusan, hingga aplikasi publik,” jelasnya.

Harapannya ke depan, teknologi penginderaan jauh dan geoinformatika dapat semakin membantu dalam menghadapi berbagai isu strategi di Indonesia.