Kendari, elaeis.co – Komoditas kelapa sawit dinilai bukan sekadar sektor perkebunan biasa, tetapi sudah menjadi penggerak ekonomi yang mampu menekan angka kemiskinan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Dasmin Sidu, SP, MP, dosen Universitas Halu Oleo dalam kegiatan Workshop & Pasar Benih Sawit di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (5/5). 

Menurutnya, sawit memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat desa jika dikelola dengan baik.

“Sawit hadir berkontribusi mengurangi angka kemiskinan. Dengan usaha budidaya, akan membuka lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran dan menekan urbanisasi,” ujarnya.

Dasmin menjelaskan, salah satu persoalan klasik di daerah 3T adalah tingginya angka urbanisasi ke kota-kota besar akibat terbatasnya lapangan pekerjaan di desa. Kehadiran industri sawit dinilai mampu menjadi solusi karena membuka banyak peluang kerja di sektor hulu hingga hilir.

Dengan adanya perkebunan sawit, masyarakat tidak perlu lagi meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota. Aktivitas ekonomi di tingkat desa dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri.

“Dengan kelapa sawit akan terbuka lapangan kerja yang memadai bagi masyarakat di desa, sehingga tidak perlu berbondong-bondong ke kota,” jelasnya.

Selain membuka lapangan kerja, keberadaan perkebunan sawit juga mendorong perbaikan infrastruktur di daerah. Jalan produksi, akses transportasi, hingga konektivitas antarwilayah biasanya ikut berkembang seiring pertumbuhan industri sawit.