Purwati mengatakan, ada beberapa faktor yang cukup mempengaruhi pergerakan harga CPO antara lain permintaan pasar dan kemampuan produsen dalam mengelola CPO.
“Tergantung seberapa besar kita dapat menciptakan peluang pasar (demand) dan seberapa besar kita mampu mengelola hasil (supply) lebih efisien, produktif dan berkualitas,” terangnya.
Tak kalah pentingnya lagi adalah dukungan pemerintah melalui regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum dan terpeliharanya iklim usaha yang kondusif. Pihaknya optimis CPO akan terus menjadi komoditas yang memiliki daya saing kuat dibandingkan produk minyak nabati lainnya.
“Tantangan kita di Kalbar adalah bagaimana CPO yang dihasilkan dapat diolah lebih lanjut menjadi produk yang lebih hilir,” ujarnya.
Purwati menambahkan, tahun ini Gapki mencatat adanya pergeseran produk CPO yang diekspor. Data ekspor nasional sampai dengan Oktober 2022 tercatat sebesar 25,2 juta ton, yang terdiri dari CPO 9,28 persen, PKO 0,30 persen, olahan CPO 71,66 persen, Biodiesel 1,28 persen, Oleo kimia 14,00 persen, dan olahan PKO 3,48 persen. Dari data tersebut, pihaknya menilai bahwa Indonesia sudah masuk ke produk hilirisasi sawit yang memiliki nilai tambah dan harga lebih stabil.
“Gambaran di atas merupakan tantangan bagi Kalbar dalam upaya mengoptimalkan fungsi Pelabuhan Ekspor Kijing, sehubungan pusat industri ataupun hilirisasi sawit masih berada di luar Kalbar,” jelasnya.
Harga CPO Sepanjang Tahun 2022 Masih Bergerak Positif
Diskusi pembaca untuk berita ini