Bangkinang, elaeis.co - Samsul Bahri, seorang petani kelapa sawit di Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar, mengaku pengelolaan perkebunan sawitnya sedikit agak terbantu menyusul turunnya harga sejumlah pupuk di pasaran sejak sekitar sepekan belakangan.

Kepada elaeis.co via ponselnya, Jumat (10/2), Samsul mengatakan pupuk dari jenis KCl yang sebelumnya ia beli seharga Rp800/kg, turun menjadi Rp530/kg. Begitu pun jenis ZA, yang sebelumnya ia beli Rp400.000/karung, sudah bisa ditebus dengan harga Rp260.000/karung.

"Agak sedikit membantu," ujar mantan pejabat di lingkup Pemkab Kampar, yang enggan menyebutkan luas areal perkebunan kelapa sawit yang ia miliki.

Ketika harga pupuk masih tinggi dulu, diakui Samsul, ia tidak secara rutin melakukan pemupukan terhadap kebun sawit yang dimilikinya. 

Dikatakan Samsul, pemupukan merupakan salah satu komponen biaya yang tergolong tinggi bagi kebunnya, sementara untuk pemeliharaan ia melakukan sendiri.

Kendati lokasi kebunnya berjarak sekitar 30 km dari kediamannya di Bangkinang, tapi lantaran sudah pensiun Samsul bisa saban hari menyambangi kebun sawitnya untuk melakukan penyiangan. 

Kendati untuk kondisi terakhir Samsul menjual TBS seharga Rp1.900/kg, angka penjualan sebanyak itu ia nilai sudah cukup memadai. "Kalau bisa, lebih dari itu hendaknya," ungkap Samsul.

Bagi Samsul, selagi harga penjualan TBS masih di atas angka Rp1.500/kg, maka sejauh itu pula kebun sawit yang ia miliki masih memberi nilai tambah ekonomi bagi keluarganya.

"Kebun (sawit) itu sangat membantu perekonomian keluarga saya, terutama setelah saya menjalani masa pensiun," ujar Samsul.