Jakarta, elaeis.co - Dalam dunia yang semakin terhubung dan dinamis, Indonesia dituntut memiliki sistem data yang dapat mendukung pembangunan ekonomi secara berkelanjutan. Direktur Sustainability PT Surveyor Indonesia (SI), Martinus H. Sutedjo, berbagi pandangan dan langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk menghadapi tantangan ini.

Sebagai sebuah negara yang sedang berkembang, menurutnya, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar dalam mengelola berbagai jenis data yang datang dari berbagai sektor, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga kehutanan. “Data yang akurat dan terintegrasi sangat penting. Indonesia juga harus dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi terkini seperti blockchain dan sistem interoperabilitas untuk mencapainya,” katanya dalam diskusi bertajuk Unlocking Opportunities: Advancing Indonesia's Leadership in Sustainable Palm Oil yang digelar di Jakarta, Selasa (18/2) lalu.

Menurutnya, data sering kali bersifat terfragmentasi meski dalam satu sektor yang sama, seperti perkebunan atau pertanian, sehingga menyebabkan ketidaksesuaian dalam penyusunan kebijakan yang akan berdampak langsung pada efisiensi dan keberlanjutan program-program pemerintah.

Karena itulah harmonisasi data antar kementerian dan lembaga terkait di Indonesia perlu dilakukan. "Kita harus bekerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta, untuk mengembangkan sebuah sistem yang memungkinkan kolaborasi antar berbagai sektor agar setiap data yang terkumpul dapat saling mendukung dan terintegrasi dengan baik," sebutnya.

Untuk menghadapi tantangan pengelolaan data, PT SI tengah mengembangkan sebuah sistem berbasis teknologi blockchain yang diharapkan dapat meningkatkan transparansi dan efisiensi. Sayangnya, tidak semua pihak siap dengan penerapan teknologi ini sehingga perlu disiapkan sistem interoperabilitas, yaitu kemampuan untuk menghubungkan berbagai sistem yang ada agar berbagai pihak dapat saling bertukar informasi dengan lancar. “Interoperabilitas menjadi solusi untuk memastikan bahwa data dari berbagai sistem yang ada dapat saling berhubungan," jelasnya.

Salah satu contoh penerapan yang sudah berjalan adalah platform multi-strategic untuk menghubungkan data dari berbagai sektor, termasuk perkebunan kelapa sawit, karet, dan kopi. Dengan adanya platform ini, diharapkan informasi terkait keberlanjutan dan proses produksi dapat tersampaikan dengan lebih akurat kepada pemerintah dan pihak-pihak yang membutuhkan.

Dia lantas mencontohkan ketersediaan data komoditas kelapa sawit yang sering kali tidak mencerminkan potensi sesungguhnya. Berdasarkan data yang ada, sektor yang memiliki luas lahan hingga 16 juta hektar ini memiliki potensi besar dalam menyumbang pendapatan negara. "Jika kita hanya mengandalkan data yang ada sekarang, angka yang tercatat bisa jauh lebih rendah dibandingkan dengan realitas di lapangan," sebutnya.

“Melalui pengembangan sistem multi-strategic platform, diharapkan data yang terkumpul bisa lebih akurat dan menggambarkan potensi sektor-sektor penting seperti kelapa sawit, karet, dan kopi secara lebih transparan,” tambahnya.

Martinus menegaskan bahwa pengelolaan data yang efektif tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau sektor swasta saja. Semua pihak, mulai dari perusahaan besar hingga petani kecil, harus mendukung untuk memastikan data yang mereka miliki bisa digunakan untuk kepentingan bersama.

“Salah satu hal yang sering kali terlupakan adalah bagaimana memberikan akses kepada petani kecil atau pelaku usaha mikro agar mereka juga dapat mengakses dan memanfaatkan data yang ada. Oleh karena itu, perlu ada edukasi dan pelatihan agar mereka bisa lebih memahami cara kerja sistem yang kita bangun," ujarnya.

"Keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana kita mengelola sumber daya alam, tetapi juga bagaimana kita mengelola data yang ada untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan dengan baik dan tidak merusak lingkungan. Kami yakin, dengan dukungan dari semua pihak, Indonesia dapat menjadi contoh dalam hal keberlanjutan," imbuhnya.