Palembang, elaeis.co - Pemerintah saat ini terus mendorong pemanfaatan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional, mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Bahkan juga meningkatkan nilai tambah komoditas sawit di dalam negeri, salah satunya dengan lahirnya program B50.
Langkah tersebut menjadi bagian dari visi jangka panjang menuju pemanfaatan bioenergi yang lebih besar. Ini sesuai dengan kondisi teknis dan ekonomi yang memungkinkan.
Pengamat Sawit Sumatera Selatan, H. Rudi Arpian, menilai selama ini Indonesia dikenal sebagai produsen CPO terbesar di dunia. Namun, sebagian besar nilai tambah masih diperoleh setelah minyak sawit mentah tersebut diolah menjadi berbagai produk hilir.
"Melalui program biodiesel, sebagian produksi CPO dapat diserap pasar domestik sehingga mampu mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Kemudian juga memperkuat permintaan dalam negeri dan membantu menjaga stabilitas harga sawit ketika pasar global melemah. Malah juga turut menekan kebutuhan impor bahan bakar fosil," ujarnya kepada elaeis.co, Selasa (7/7).
Dengan peran tersebut katanya, sawit dinilai tidak hanya menjadi sumber devisa negara, tetapi juga berkontribusi dalam mendukung ketahanan energi nasional.
Kemudian, penerapan kebijakan biodiesel tersebut bersifat fleksibel, yakni mengikuti dinamika harga CPO dunia dan kebutuhan energi nasional. Ketika harga CPO global berada pada tingkat rendah, pemanfaatannya untuk biodiesel dapat diperbesar guna meningkatkan penyerapan produksi dalam negeri.
Sebaliknya, saat harga internasional mengalami kenaikan signifikan, komposisi pemanfaatan dapat disesuaikan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, pangan, dan ekspor.
"Pendekatan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengelola sumber daya secara lebih strategis dan tidak semata-mata bergantung pada dinamika pasar global," katanya.
Meski memiliki prospek yang besar, sejumlah tantangan masih perlu diselesaikan agar manfaat kebijakan dapat dirasakan secara luas. Beberapa di antaranya adalah percepatan hilirisasi industri sawit, peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui program peremajaan sawit, penguatan kapasitas industri biodiesel dan bioenergi, menjaga keseimbangan kebutuhan energi, pangan, dan ekspor, serta memastikan peningkatan nilai tambah mampu berdampak pada kesejahteraan petani.
Menurut Rudi, untuk mendukung keberhasilan program tersebut, sejumlah langkah strategis dinilai perlu dipercepat. Langkah tersebut meliputi perluasan hilirisasi produk sawit ke berbagai sektor seperti biodiesel, oleokimia, bioavtur, bioetanol, dan produk bernilai tambah lainnya, percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penguatan riset dan inovasi teknologi bioenergi, peningkatan kepastian regulasi bagi investor, serta memastikan harga tandan buah segar (TBS) yang adil dan tata niaga yang transparan bagi petani.
"Sawit merupakan salah satu aset strategis Indonesia.sehibgga dengan tata kelola yang baik, hilirisasi yang kuat, dan kebijakan energi yang tepat, CPO dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan energi, meningkatkan devisa, dan memperbesar nilai tambah di dalam negeri," tandanya.
Pemanfaatan CPO untuk Biodiesel Dinilai Langkah Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini