Bogor, elaeis.co – Asosiasi Perbenihan Indonesia (ASBENINDO) resmi mengukuhkan jajaran pengurus baru periode 2026-2031 dalam rangkaian Pengukuhan Pengurus dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar di Bogor, Rabu (1/7/). 

Mengusung tema "Sinergi Benih Daulat Negeri", kepengurusan baru dipimpin oleh Ayub Darmanto sebagai Ketua Umum dan Dadang Syamsul Munir sebagai Sekretaris Jenderal.

Pengukuhan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi ASBENINDO untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media dalam mendukung target swasembada pangan nasional yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dewan Pembina ASBENINDO sekaligus Ketua Umum Masyarakat Perlindungan Perbenihan Indonesia (MPPI), Herman Khaeron, mengatakan kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan estafet kepemimpinan sebelumnya serta membawa organisasi menjadi lebih maju.

"Kepemimpinan baru ini diharapkan dapat melanjutkan tonggak estafet yang telah dibangun sebelumnya dan membawa ASBENINDO semakin maju serta memberikan kontribusi lebih besar bagi sektor perbenihan nasional," ujar Herman.

Menurutnya, benih merupakan fondasi utama kehidupan sekaligus penentu keberhasilan sektor pertanian. Ia bahkan menyebut benih sebagai bagian dari peradaban manusia karena seluruh rantai pangan berawal dari kualitas benih.

"Tanpa benih tidak akan ada kehidupan. Benih adalah bagian dari peradaban dan menjadi sumber kehidupan manusia," katanya.

Herman menilai banyak negara maju menempatkan benih sebagai aset strategis yang dilindungi negara. Karena itu, Indonesia juga perlu memperkuat kemandirian benih agar tidak bergantung pada pasokan luar negeri.

Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan telah menegaskan pangan sebagai hak asasi manusia yang harus dipenuhi negara secara berkelanjutan.

Menurut Herman, momentum pemerintahan saat ini harus dimanfaatkan untuk mewujudkan swasembada pangan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga mencakup seluruh instrumen pendukungnya.

"Yang harus dicapai bukan hanya swasembada produksi, tetapi juga swasembada benih, pupuk, pengendalian hama, hingga seluruh input produksi pertanian," ujarnya.