Nusantara 

Pihak Anti Sawit Terus Cari Bahan Buat Bikin Fitnah

Pihak Anti Sawit Terus Cari Bahan Buat Bikin Fitnah
Rektor USU Dr Muryanto Amin (tengah) saat berbicara tentang pengalamannya saat membela perkebunan sawit berkelanjutan di Indonesia. Foto: Hendrik/Elaeis.co

Medan, Elaeis.co - Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Muryanto Amin, tampak sangat bersemangat jelang penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) pembangunan Etalase Sawit di kampus 2 USU di kawasan Kwala Bekala yang akan dilakukan USU dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

"Saya ini bukan orang baru di dunia persawitan," kata Muryanto saat berbicara sebelum penandatanganan MoU di Gedung Biro Rektor USU Jalan Dr Mansyur Medan, Jumat (14/1/2022) pagi.

Ia mengaku pernah bekerja sama dan berbagi tugas dengan Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono dan Forum Rektor untuk mengkampanyekan kelapa sawit baik dan berkelanjutan.

Ia mengaku mengetahui dan memahami betapa besar sumbangsih sawit bagi perekonomian Indonesia, termasuk saat diserang pandemi Covid-19 dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Ia juga tahu kalau sekelompok orang, terutama yang berasal dari Uni Eropa, sangat anti sawit. Pernah di satu waktu ia bertanya langsung ke salah satu duta besar (dubes) dari salah satu negara anggota Uni Eropa terkait sawit.

Awalnya sang dubes menjawab secara standar diskusi sawit tersebut. Namun Muryanto kemudian memberikan pertanyaan skakmat kepada si Dubes.

"Kenapa kalian benci sawit kami? Saya tanya begitu kepadanya," ucapnya.

Namun Dubes tersebut mengelak dan membantah negaranya anti sawit. "Kami hanya tidak suka cara dan proses pengolahan sawit di Indonesia. Tidak ramah lingkungan. Begitu kata sang dubes. Aneh kan. Saya sendiri hanya tersenyum dengan jawaban beliau," Muryanto menambahkan.

Ia yakin pihak Uni Eropa punya 1001 jawaban jika disinggung mengenai sawit. Karena itu Rektor USU meminta agar stakeholder sawit di Sumut dan Indonesia secara umum untuk fokus menerapkan perkebunan sawit yang berkelanjutan.

Sebab, belajar dari sikap Uni Eropa, pihak anti sawit selalu punya jalan untuk mendiskreditkan sawit.

Ia lalu memberikan satu contoh kejadian di perkebunan sawit rakyat di salah satu kabupaten di Sumut. Kata dia, ada salah satu keluarga petani sawit yang memiliki beberapa anak masih berusia di bawah 10 tahun.

Mereka membangun rumah dan tinggal di sekitar kebun sawit mereka sendiri. Karena halaman rumah si petani adalah lahan sawit, tentulah anak-anaknya bermain-main di kebun sawit.

"Lalu masuk informasi ke saya kalau perkebunan sawit di Indonesia mengeksploitasi anak. Dan foto anak-anak di kebun sawit bapaknya itu yang dijadikan kampanye pihak anti sawit. Luar biasa cara mereka memfitnah," kata Muryanto.

Ia mengaku pernah mendebatkan persoalan anak-anak di kebun sawit ke pihak tertentu yang anti sawit. "Kami berdebat panjang. Tapi ya itulah, tetap begitulah sikap pihak anti sawit itu," tegas Muryanto. 


 

Editor: Rizal