Pelembang, elaeis.co - sepanjang tahun 2026, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) melalui dinas perkebunan menargetkan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) hingga 3.600 hektar. Ini ditargetkan terealisasi di delapan kabupaten yang menjadi sentra perkebunan kelapa sawit di Sumsel.

Dari data yang didapat elaeis.co, kabupaten dengan potensi tertinggi adalah Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten OKI. Dimana masing- masing ditargetkan 1.000 hektar tahun ini kebun kelapanya di remajakan.

Kemudian untuk kabupaten Oku, Banyuasin, Muara Enim, dan Musi Rawas Utara luasan kebun yang ditargetkan untuk diremajakan masing-masing 300 hektar. Sementara untuk kabupaten Lahat dan Musi Rawas mencapai 250 hektar dan 150 hektar.

Sebelumnya, Pemerhati Perkebunan Sumatera Selatan (Sumsel), Rudi Arpian menyatakan bahwa meskipun luas lahan perkebunan sawit di Sumsel terus meningkat, produksi tandan buah segar (TBS) sawit justru stagnan dalam lima tahun terakhir.

Perlambatan program peremajaan dan tantangan struktural lainnya membuat produktivitas petani sawit tak bergerak naik. Sementara peluang dan tekanan dari pasar global terus bergerak dinamis.

"Perlambatan capaian PSR dipengaruhi lantaran masih banyaknya status lahan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan. Sehingga sulitnya akses pembiayaan. Akibatnya, tanaman tua tetap mendominasi, menurunkan hasil panen dan memperparah ketergantungan terhadap fluktuasi harga," ujarnya kepada elaeis.co beberapa waktu lalu.

Kendati menghadapi berbagai tantangan, industri sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi di banyak wilayah terpencil Indonesia, tidak terkecuali di Sumsel. Menurut Rudi sektor ini membuka lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, dan membantu membentuk kawasan-kawasan pertumbuhan baru.

Namun menurutnya, masa depan industri sawit Indonesia kini bergantung pada seberapa cepat komoditi ini bisa beradaptasi baik melalui pembenahan peremajaan, adopsi teknologi ramah lingkungan, maupun peningkatan posisi tawar petani di pasar global.