Siku Kata 

SobatKu Al azhar

  • Reporter Aziz
  • 13 Oktober 2021
SobatKu Al azhar
Al azhar (4 dari kanan) saat bersama Ketua PW NU Riau, T Rusli Ahmad (3 dari kanan) serta Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr. Gulat ME Manurung (2 dari kanan). foto: ist

Ketiadaan. Bergurau dalam canda yang merisau. Ketiadaan adalah ke-ada-an yang melingkar. Seraya menjalani ketiadaan sepanjang malam (tidur), saya bangun dengan sejumlah pesan masuk tentang ketiadaan. 

Sobat saya azhar ‘terbang ke langit’ selamanya. Lalu, saya terduduk, diam dan menggenang air mata di antara dua pelupuk. Gelombang kedua, ketiadaan: saya kehabisan kata.

Sore kemaren memang tergerak hati saya (kembali) akan menghubungi istri Allahyarham, sekedar bertanya perkembangan setelah Kamis 7 Oktober saya saling kontak. 

Agak segan, saya belokkan untuk bertanya via whatsapp ke Mur, juga agak ugahari. Terakhir saya telepon Edy RM.

Baca juga: Kawasan Hutan: 'Ngurat Kuno' atau Gertak Maya?

Kami berdua bak tangkai bunga yang menjulur dari lelangit Riau. Angkatan awal (80-an) yang membina kesadaran Melayu (Malay conscience) lewat dialog-dialog kebudayaan serantau dan dunia kepenulisan. 

Antara saya dan azhar, tersalin sejumlah peristiwa “datang dan pergi” demi Malay thougth (Melayu secara pemikiran/pemikiran Melayu) di ranah gugah dan ranah senyap. Dan saling melengkapi. 

Gaya kepenulisannya bening, meraut sejumlah media nasional dan beberapa jurnal kebudayaan internasional. “Bilangan Esa”, satu di antara puisi yang saya simpan sejak masa kuliah hingga ingatan menua saat ini.

‘Datang dan pergi’ lah yang menghias keadaan kami berdua. Kalau saya bertandang ke ruang kerjanya masa-masa di Bandarserai; dia sudah menyiapkan setandan pemikiran Derrida dan Michel Foucault. 
Yang memulai pembicaraan, tetaplah saya.

Dia menunggu dalam diam dan dengar yang tunak. Setelah beberapa lembar pemikiran, baru dia menyela dengan gagasan-gagasan segar yang telah disiapkan (sejatinya spontan). Sejak masa mahasiswa dia telah memanggil saya, Filsuf. Namun, nampak kernyit dahi saya, akhirnya cari panggilan setara. Dia menyapa saya dengan sapaan akrab: Bung. 

Terkadang di antara kami saling memanggil nama kecil saja. Sobat saya ini seorang penukil teater (seni pertunjukan) sejati. Selain penulis di masa mudanya. Dia orator yang menggugah bagi anak muda yang merindukan Melayu dalam hamparan sri gunung. 

Pilihan kata amat piawai, menepi dalam sejumlah kaidah diksional yang menyerap seluruh pewilayahan dialek alam Melayu, jelita diksional hamparan pantai-pantai Melayu. 

Dia seorang yang berkaidah dalam etika pergaulan. Beberapa kali Lembaga Adat Melayu mengundang
saya sebagai pembicara, dia tak bisa ikut serta. Namun, pagi-pagi jelang saya hadir, dia paksakan
sejenak untuk bersua saya dan minta maaf tak bisa hadir penuh, karena keperluan itu dan ini.

Era 90-an (sepulang sekolah di luar) kami berdua adalah kembang Melayu yang tengah mekar dalam ceria warna pemikiran yang merekah (dalam rona tak sama). Menjadi tembok pemikiran secara intelektual-akademis. 

Ridwan Saidi, pernah berpidato di sebuah ruang kebudayaan di Jakarta dalam majelis masyarakat Betawi, kira-kira begini bunyinya: “Betawi punya apa? Di Riau sana ada kekuatan dan tembok kukuh yang dimiliki Melayu bernama Yusmar Yusuf dan Al azhar”.

Juga dalam sebuah majelis persuaan Melayu di Medan, nama kami berdua diperkatakan. Terkadang
nama azhar dulu atau sebaliknya. Di Malaysia demikian pula...

Kami berdua sering bersua dan berdialog dalam ruang senyap-teduh. Diikat kawi oleh “akal kesadaran budaya”. Dia memilih jalan gempita, sementara saya asyik dengan jalan soliter: menulis dan menulis tiada henti. 

Saya katakan pada dia, “saya mundur dari Lembaga Adat era Tennas, karena saya hendak menumpukan pemikiran dalam dunia menulis dan menulis, utamanya ranah tasawuf yang jelita itu”. “Anda jalanilah terus ‘jalan gemuruh’ itu”. 

Kalau dia merindukan pemukul epistemi terhebat dalam sebuah seminar; dia akan mengundang saya sebagai juru pukul he he.

Bagi kami berdua, dalam azam “akal kebudayaan”: Andai Riau dalam maujud kebudayaan bak setiang tubuh, maka yang menjadi tangkai (pelepah) palma dengan fungsi menjaga keseimbangan tubuh itu adalah lengan. 

Ya, kalau hati di dalam tubuh itu ingin mengekspresikan kegirangan, tentu kedua lengan itu akan mencantum dalam sorak tepukan. Tepukan yang cerah ceria itu tak kan berbunyi nyaring kalau tak ada tangan kanan dan tangan kidal. 

Dan, ... azhar adalah tangan kanan itu dan saya lah di posisi lengan kidal. Ketika, tubuh kebudayaan itu mendemam dan mengeram geram, pencantuman dua telapak tangan itu menjadi himpunan genggam-memadu (padu, padat, sekaligus manis-madu): gambaran alegoris kuat, kawi namun tetap elegan dan flamboyan.

Melayu tampil aduhai di medan teks dan jelita di medan panggung kehidupan Sumatra: menyerlah selejang dunia Melayu. 

Si tangan kidal memilih jalan progresif dalam jalur musik melintang-lintang jazzy, si tangan kanan beralun dalam gaya philharmonia/simponia-romantik yang menghanyutkan Riau. 

Datang dan pergi antara si kanan dan si kidal, demi melengkapi syarat hidup yang memanen keragaman (diversity harvesting) yang ditunaikan dalam larian panjang peradaban Melayu.

Subuh ini, ketiadaan itu datang dan bergurau dalam ‘akal Ketuhanan’ yang tak terjelaskan. Hanya rinding bulu roma dan selurut air mata yang menjelaskannya. Terasa lemas menghadapi kehilangan sebagai tampilan bingkai mengenai ketiadaan itu, menggayut di depan mata. 

Sobat ‘akal kebudayaan’ ku, dan pasangan lengan kidal ku, terbang ke langit nan sayup; pulang, menyatu kembali kepada “kembaran samawi” si lengan kanan sebagai alamat abadi. 

Kami, tak lebih dari tangkai-tangkai lengan yang dipinjamkan untuk saling bertepuk dan menggenggam beberapa detik di dalam sebuah kegelapan abadi, sebelum dia harus balik dan menyatu ke alamat baka: “kembaran samawi”. 

Si lengan kanan menyatu dalam keriangan avatar serba me-nganan. Dan kita, adalah sejumlah entitas yang tengah menjalani antrean panjang menuju rumah “kembaran sawani” itu, setelah memerankan sejumlah permainan dalam “kemiripan-kemiripan misteri” di bumi ini.

Selamat jalan sobat “lengan ku”... menyatulah dalam kilau komet cahaya yang melintas di pucuk ruang sebelah sana...



 

Editor: Abdul Aziz