Samarinda, elaeis.co - Di Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), hanya ada tiga pabrik kelapa sawit (PKS).

Namun selama beberapa hari terakhir selalu muncul kabar tak sedap dari ketiga PKS itu kepada para petani sawit swadaya setempat.

"Harga TBS merosot terus. Kemarin turun menjadi Rp 1.870 per kilogram, dan itu pun malah lebih tinggi dibanding PKS yang ada di Kecamatan lainnya," kata Sutarno kepada elaeis.co, kemarin.

Pria berusia 54 tahun ini adalah Ketua Kelompok Tani (Poktan) Harapan Jaya, Desa Padang Jaya, Kecamatan Kuaro.

Kata dia, para petani yang tergabung dalam Poktan Harapan Jaya sampai sekarang masih kaget dengan anjloknya harga TBS.

Sebab, sebelum pelarangan ekspor minyak goreng (migor) dan bahan baku migor harga TBS produksi para petani sawit masih laku dijual ke tiga PKS setempat dengan harga rata-rata sebesar Rp 3.440 per kg.

"Lah, sekarang jadi Rp 1.800 per kilogram itu gimana ceritanya ya. Kami sebagai petani biasa jadi bingung," kata petani sawit peserta program transmigrasmi ini.

Jika kebijakan itu ditujukan untuk mengatasi harga migor yang mahal, Sutarno heran karena sampai saat ini hal itu tidak terjadi.

Sebab sampai sekarang harga migor tak kunjung turun drastis seperti beberapa bulan sebelumnya.

Ayah dua anak ini mengakui harga migor kemasan di Kecamatan Kuaro saat ini turun berkisar di atas Rp 45.000-an per dua liter dibanding sebelumnya yang mencapai Rp 52.000-an per liter.

"Selama 35 tahun saya jadi petani sawit, saya akui baru di zaman Presiden Jokowi harga TBS melambung tinggi. Tapi di zaman Presiden Jokowi juga harga dibuat turun drastis seperti sekarang ini," kata Sutarno.

Ia lalu membandingkan antara harga TBS di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang justru lebih renah bila dibandingkan zaman Presiden Jokowi.

Namun saat era SBY, kata Sutarno, harga pupuk tidak mahal, malah disubsidi. Hal ini tidak terjadi di zama Presiden Jokowi.

Jadi, kata dia, kalau harga TBS saat ini Rp 1.800/kg, tapi harga pupuk mahal, tetap tidak berpengaruh positif ke ekonomor mereka.

"Zaman SBY harga TBS paling tinggi Rp 1.500/kg, tapi pupuk masih murah. Jadi, masih terasa nikmatnya," kata dia.

Karena itu, atas nama para petani di desanya yang didominasi oleh para petani sawit, ia meminta Presiden Jokowi mencabut kembali larangan ekspor migor dan bahan baku migor.

Mereka, kata Sutarno, benar-benar sedang tertekan dengan kebijakan Presiden jokowi tersebut.

Poktan yang ia pimpin tak tahu lagi harus mengadu ke mana untukmengatasi persoalan anjloknya harga TBS mereka.

"Satu-satunya harapan kami adalah semoga Pak Presiden Jokowi mau mencabut larangan ekspor migor dan bahan baku migor agar harga TBS kami bisa pulih kembali," tegas Sutarno.