Bisnis 

Tak Semua Perusahaan Sawit Nikmati Naiknya Harga CPO

Tak Semua Perusahaan Sawit Nikmati Naiknya Harga CPO
Ilustrasi industri sawit (Facebook)

Jakarta, Elaeis.co - Industri sawit termasuk sektor usaha yang terbukti kebal pandemi Covid-19. Bahkan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencapai rekor harga tertinggi akibat meningkatnya permintaan di pasar global.

Perekonomian Indonesia, salah satu raksasa perkebunan sawit global, sangat terbantu oleh naiknya ekspor minyak sawit dan turunannya.

Petani sawit tentu saja ikut menikmati imbas dari naiknya harga CPO. Namun, di luar dugaan, ternyata tidak semua perusahaan sawit merasakan hal yang sama.

"Perlu diketahui, tak semua kawan-kawan kita sesama pengusaha sawit ikut menikmati keuntungan penuh dari booming atau kenaikan harga CPO ini," kata Seman Sendjaja, Direktur Keuangan PT Cisadane Sawit Raya (CSR) Tbk, dalam acara Ngobrol Sawit (Ngobras) yang ikut disaksikan Elaeis.co, Selasa (14/9/2021) malam.

Menurutnya, sejumlah pengusaha sawit keliru mengatur finansial perusahaan. Padahal naik turun harga CPO bukan fenomena baru, sudah terjadi dalam kurun 6-7 tahun terakhir.

"Seperti roller coaster. Nah, saya melihat banyak teman-teman pengusaha sawit terjebak di situasi ini," ujar Seman.

"Masih ingat enggak di tahun 2017 harga CPO juga melonjak, lalu di tahun 2018-2019 anjlok, dan naik lagi saat pandemi ini," dia menambahkan.

Saat harga CPO naik, ia melihat sejumlah pengusaha sawit melakukan ekspansi besar-besaran, seperti pembelian lahan yang dilanjutkan dengan pembukaan kebun sawit yang baru, dan sejumlah ekspansi lainnya.

Saat harga CPO tiba-tiba turun, para pengusaha itu mengalami kesulitan membayar gaji dan hak-hak karyawan, tak mampu melakukan pemupukan dan perawatan maksimal terhadap kebun, dan terkendala melakukan sejumlah hal krusial lainnya.

"Nah, saat harga CPO naik seperti sekarang ini, mereka tak bisa lagi menikmati penuh hasil kebunnya. Sebab saat harga CPO kemarin turun, mereka tak punya duit merawat kebun sehingga tidak menghasilkan panen yang maksimal. Akhirnya, keuntungannya sekarang enggak maksimal," bebernya.

Karena itu, Seman menilai kunci dari perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan bukan ada di pola perawatan kebun atau peningkatan SDM pekerja atau petani.

"Kuncinya ada di finansial. Yang pertama harus dipastikan itu adalah financial sustainability. Sustainability bidang keuangan yang paling utama. Bagi sebuah perusahaan sawit, sistem keuangan yang berkelanjutan adalah keharusan," ucap Seman berulang kali.

Sebab jika tidak mampu mengatur uang, pasti perusahaan tak akan mampu membangun perkebunan sawit yang berkelanjutan seperti merawat kebun sesuai standar, menggaji karyawan, menggelar program CSR bagi masyarakat sekitar perusahaan, menjalin kemitraan dengan petani sawit, dan sederet standar lain dalam praktek perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Editor: Rizal