Jakarta, elaeis.co - BPJS Ketenagakerjaan bersama International Labour Organization (ILO) sukses menggelar Training of Trainers (ToT) metode pelatihan PAOT (participatory action oriented training) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.

Kegiatan ini diikuti 400 peserta yang berasal dari 200 perusahaan di sektor sawit di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Acara ini sekaligus menutup seluruh rangkaian ToT yang sebelumnya sudah dilaksanakan di Palembang, Medan, dan Pekanbaru, sejak 18 September 2024.

Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Roswita Nilakurnia mengatakan, ToT bertujuan meningkatkan pemahaman para pekerja terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang menjadi fokus utama BPJS Ketenagakerjaan dalam meredam tingginya angka kecelakaan kerja di sektor perkebunan.

"Wilayah Kalimantan, khususnya di Pangkalan Bun, merupakan salah satu daerah dengan jumlah perusahaan sawit yang signifikan. Karena itulah, implementasi K3 di wilayah ini sangat krusial," jelasnya dalam keterangan resmi, kemarin.

Melihat banyaknya pekerja di sektor ini yang terpapar risiko tinggi kecelakaan, penting bagi BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan setiap pekerja memiliki kesadaran dan keterampilan yang memadai terkait keselamatan kerja guna mengurangi angka kecelakaan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Sepanjang tahun 2023, BPJS Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 370 ribu kasus kecelakaan kerja. Sektor perkebunan sebagai penyumbang terbesar, yaitu 60,5% atau sekitar 224 ribu kasus. Angka ini mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2022, yang mencatat 169 ribu kasus.

Selain itu, biaya klaim juga meningkat sebesar 24%. Total manfaat Klaim Jaminan Kecelakaan Kerja yang dibayarkan mencapai Rp 3,02 triliun di tahun 2023, naik dari Rp 2,38 triliun pada tahun 2022.

"Dengan meningkatnya angka klaim, beban finansial bertambah, namun dampak pada produktivitas dan kelangsungan usaha juga sangat signifikan. Inilah yang harus menjadi perhatian kita bersama," katanya.

"Namun saya ingin menekankan bahwa peningkatan klaim kecelakaan kerja ini bukan sekadar angka nominal. Setiap kasus kecelakaan berdampak langsung pada produktivitas tenaga kerja dan perusahaan. Pekerja yang mengalami kecelakaan sering kali memerlukan waktu pemulihan yang panjang, yang berarti hilangnya jam kerja dan penurunan efisiensi operasional," sambungnya.

Roswita juga menegaskan bahwa salah satu upaya penting dalam menurunkan angka kecelakaan kerja adalah melalui pelatihan ToT K3. Pelatihan ini bertujuan untuk menciptakan agen-agen perubahan di lingkungan kerja yang mampu menyebarluaskan dan menanamkan budaya K3 secara efektif dan meningkatkan kesadaran pekerja akan pentingnya K3 dan Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.