Lingkungan 

Warga Tanah Merah Lega Ada Pemecah Gelombang

Warga Tanah Merah Lega Ada Pemecah Gelombang
Warga Tanah Merah Lega Ada Pemecah Gelombang

Pekanbaru, Elaeis.co - Sebelumnya ratusan warga Desa Tanah Merah, Kepulauan Meranti resah dengan terus terjadinya abrasi yang menggerus bibir pantai wilayah tersebut. Warga juga khawatir abrasi yang telah terjadi sejak 2019 itu terus meluas jika tidak ada tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menyelamatkan wilayah di Kecamatan Rangsang Pesisir itu.

Namun, saat ini warga sedikit lega lantaran Pemprov Riau telah turun gunung membangun pemecah gelombang yang merupakan salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya abrasi tersebut. Nantinya juga akan diteruskan dengan penanaman bakau di wilayah itu.

"Insya Allah tahun ini Kementerian PU memperluas pembangunan pemecah gelombang ini," ujar Gubernur Riau Syamsuar, Senin (11/10) kepada Elaeis.co.

Kata orang nomor satu di Riau itu, tanaman bakau akan ditanam setelah timbul tanah dibatas bangunan pemecah gelombang tadi. Tanaman itu juga diharapkan dapat memperkecil gelombang air yang timbul bila musim gelombang datang.

"Tanaman bakau tidak hanya sebagai pemecah gelombang, tapi juga berfungsi menjadi rumah bagi ikan. Jadi, kita berharap nantinya setelah ditanam tanaman itu dijaga," terangnya.

Untuk diketahui, penanaman bakau ini merupakan program pemerintah untuk menyelamatkan wilayah pesisir Indonesia yang mengalami abrasi. Bahkan sebelumnya, Presiden Joko Widodo, Selasa (28/09) lalu juga turun langsung untuk melihat kondisi salah satu wilayah di Riau yang mengalami abrasi. Daerah tersebut yakni Desa Muntai Barat yang terletak di kabupaten Bengkalis.

Tak hanya berkunjung, orang nomor satu di Indonesia itu juga tanam mangrove (bakau) di salah satu pulau terdepan yang ada di Riau itu

Bibit mangrove jenis bakau (Rhizopora sp) dan bibit api-api (Avicenia sp) itu ditanam Jokowi di wilayah Pantai Raja Recik. Bahkan puluhan masyarakat setempat ikut menanam tumbuhan tersebut.

Sedikitnya ada 20.000 batang bibit mangrove yang ditanam di wilayah tersebut. Dimana mendampingi Presiden, hadir pula Menteri LHK, Siti Nurbaya bersama Kepala BRGM, Hartono, dan Bupati Bengkalis, Kasmarni.

Lokasi ini yakni Kabupaten Bengkalis memang menjadi salah satu lokasi terluas untuk target rehabilitasi kawasan pesisir yang masuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mangrove 2020-2021 di Provinsi Riau. Dimana luasnya mencapai 1.292 hektare.

"Kita berharap penanaman mangrove secara bersama dapat memperbaiki dan merehabilitasi kawasan ini, dalam rangka mengendalikan abrasi, sekaligus dalam mendukung ekowisata daerah. Tentunya dapat mendukung ekonomi masyarakat setempat," ucap Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja tersebut.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), melakukan percepatan rehabilitasi mangrove seluas 34.250 ha yang tersebar di 32 Provinsi se- Indonesia.

"Rehabilitasi mangrove akan kita lakukan di seluruh Tanah Air, karena hutan mangrove menyimpan carbon 4-5 kali lebih banyak dari hutan tropis daratan. Sehingga akan berkontribusi besar pada penyerapan emisi karbon. Ini meneguhkan komitmen kita terhadap Paris Agreement dan perubahan iklim dunia," imbuhnya.

Selain itu, untuk memulihkan kawasan hutan mangrove yang mengalami kerusakan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa PEN Mangrove bertujuan meningkatkan tutupan hutan mangrove, serta meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

"PEN juga akan membantu dalam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karena, seluruh pembayaran PEN Mangrove dilakukan secara langsung ke rekening masyarakat (account to account) dan rekening kelompok," sebutnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2020 pelaksanaan PEN mangrove di wilayah Provinsi Riau dikerjakan oleh 36 kelompok tani, dan  menyerap tenaga kerja mencapai 48.504 HOK (hari orang kerja), dengan penanaman bibit sebanyak 3.625.900 batang.

Sedangkan untuk tahun 2021-nya, PEN mangrove menjangkau luas 5.050 hektare, yang dikerjakan oleh 134 kelompok tani dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 210.823 HOK dan target penanaman bibit mangrove sebanyak 14.704.000 batang.

Editor: Sany Panjaitan