Jakarta, elaeis.co - Program beasiswa bagi anak petani kelapa sawit yang digelontorkan pemerintah melalui Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) kelapa sawit resmi dibuka pada 17 Mei 2025. 

Diharapkan pemerintah daerah lebih proaktif agar program tersebut dapat dimanfaatkan maksimal oleh keluarga besar pelaku usaha di sektor perkebunan kelapa sawit.

Menurut Sekertaris Jenderal DPP Apkasindo Perjuangan, A.Sulaiman H Andi Loeloe, harus ada langkah jitu dari pemerintah daerah agar program tersebut dapat diikuti oleh anak-anak petani kelapa sawit. Sebab menurutnya, banyak anak petani sawit yang tidak mendapatkan akses informasi maupun akses internet.

"Program ini seyogyanya tersebar hingga ke pelosok desa atau daerah-daerah terpencil yang juga menjadi wilayah sentra kelapa sawit. Sehingga pemanfaatannya lebih maksimal," ujarnya kepada elaeis.co, Minggu (18/5).

Biasanya lanjut Sulaiman, daerah pelosok sulit untuk mendapatkan akses internet. Sementara pendaftaran program ini dilakukan secara online. 

Maksud Sulaiman, Pemda bila perlu melakukan sistem jemput bola agar program tersebut merata dinikmati para anak petani kelapa sawit yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

"Jika dimanfaatkan dengan baik maka ke depannya kita bisa mendapatkan SDM Pekebun yang baik dan tersedianya tenaga kerja di bidang perkebunan sawit" sambungnya.

Kendati begitu, Sulaiman mengaku sangat apresiasi atas dibukanya kembali Program Besiaswa Sawit tahun 2025, Sesuai PP Nomor 24 Tahun 2015, tentang penghimpunan Dana Perkebunan, dan PP Nomor 132/2024, Tentang Pengolahan Dana Perkebunan, Permentan No.5/2025, Tentang Pengembangan SDM, Penelitian dan Pengembanga, Peremajaan, serta sarana dan Prasarana Perkebunan Kelapa Sawit tersebut.

Program ini juga selaras dengan Kepdirjenbun Nomor 57/2023, Tentang Pedoman Sumberdaya Pekebun Kelapa Sawit dalam kerangka Pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawi, dan Perdirut BPDPKS Nomor 6/2024, Tentang Tatacara Pemberian  Dukungan Pendanaan Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit.

"Ini salah satu komitmen Pemerintah untuk memperbaiki tata kelola persawitan di Indonesia, dengan dukungan tenaga kerja yang baik dan terampil, yang di mulai dari hulu sampai di hilir. Salah satunya untuk mendukung perbaikan tersebut adalah peningkatan sumber daya manusianya di bidang persawitan di Indonesia," paparnya.

Sebagai pengingat, Indonesia adalah negara penghasil sawit terbesar di dunia dengan luas 16,38 Juta hektar. Ini terdiri dari 41 % (6,72 juta hektar) merupakan perkebunan petani swadaya, 53 % (8,68 juta hektar) adalah perusahaan swasta, serta 6 % ( 0,98 juta hektar) merupakan perkebunan milik BUMN.

Program beasiswa sawil gratis dan full fasilitas yang akan menunjang pendidikan bagi mahasiswa seperti, pemberian SPP, biaya hidup per bulan, Uang buku per semester, bantuan biaya magang, bantuan biaya tugas akhir, biaya transportasi pulang-pergi dari asal ke lokasi kampus.

Pada tahun 2025 terbuka bagi Putra putri pekebun dan karyawan/buruh pekebun/industri sawit di 41 perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia dengan target 4.000 mahasiswa. 

Sementara khusus untuk Sulawesi Selatan tempat Sulaiman berdomisili, terdapat 3 kampus negeri yang siap menerima siswa dari bagian timur di antaranya UNHAS, AKOM Bantaeng dan ATIM.