Jakarta, elaeis.co - Bangun jam setengah tiga pagi, Dwi Mayasari rela tempuh 3 jam dari Malang ke Surabaya demi satu hal, belajar olahan sawit untuk mimpi besarnya sebagai UMKM Pia Candi.
Masih pagi buta, udara Malang belum sepenuhnya menggeliat. Jam masih menunjukkan pukul 03.30 ketika Dwi Mayasari, owner Pia Candi, UMKM asal Kabupaten Malang, sudah bersiap.
Satu demi satu perlengkapan baking dimasukkan ke dalam tas. Hari itu, ia punya misi: menjemput ilmu tentang pengolahan kelapa sawit. Jarak bukan soal. Antusias sudah lebih dulu mengalahkan kantuk.
“Berangkat dari rumah jam empat pagi, langsung ke Stasiun Singosari. Sampai Gubeng sekitar dua setengah jam kemudian,” ceritanya sembari tersenyum, sesekali membenarkan jilbabnya yang agak miring karena tergesa.
Tujuannya adalah Workshop Olahan Kelapa Sawit yang digelar oleh Elaeis Media Group bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Bertempat di sebuah hotel di pusat Kota Surabaya, acara ini memang dirancang untuk mengenalkan potensi sawit sebagai bahan pangan, khususnya bagi pelaku UMKM.
“Saya lihat posternya langsung tertarik. Selama ini kan sawit identik dengan minyak goreng, tapi ternyata bisa jadi kue juga,” ucap Dwi, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Dwi bukan orang baru di dunia baking. Pia Candi yang ia kembangkan sudah cukup dikenal di kalangan penikmat oleh-oleh khas Malang. Namun, sawit sebagai bahan baku? Itu hal baru. Justru karena itulah ia ingin hadir. Penasaran. Haus ilmu.
“Saya senang sekali pas tahu bolu bisa pakai sawit. Pas nyoba rasanya legit banget. Ada rasa khas yang nggak bisa dijelasin, mungkin karena perpaduan sama nanas ya,” ungkapnya sambil tertawa kecil. “Orang Jawa kan belum banyak yang kenal rasa sawit seperti ini.”
Dwi sempat mencicipi bolu sawit hasil olahan peserta lain dalam sesi praktik. Lidahnya langsung menyetujui: ini bisa jadi gebrakan baru.
“Serius, ini enak banget. Dan yang paling penting, nggak melengeri. Jadi cocok buat selera orang Jawa Timur,” tambahnya.
Bolu Sawit Khas Arek Malang
Usai workshop, Dwi membawa pulang lebih dari sekadar ilmu. Ia membawa semangat baru. Terbersit ide: kenapa nggak bikin bolu sawit khas Malang?
“Kalau diolah dengan serius, mungkin bisa jadi ikon baru oleh-oleh. Kan belum ada tuh, bolu sawit di Malang atau Surabaya,” katanya optimis.
Namun, langkah itu tak semudah membalik spatula. Salah satu tantangan terbesar adalah bahan bakunya. “Sekarang masih susah nyari bahan baku sawit untuk pangan di Jawa. Tapi nanti saya coba cari sendiri dulu, siapa tahu bisa dapat,” tekadnya.
Meski begitu, ia tak patah semangat. Dalam dunia UMKM, kreativitas dan keberanian mencoba adalah bahan dasar kesuksesan.
“Saya tertarik bikin dodol dan kue bangkit juga dari sawit. Tapi pelan-pelan, yang penting sudah tahu ilmunya dulu,” ucapnya sambil merapikan perlengkapan baking yang ia bawa sendiri dari Malang.
Bagi Dwi, workshop ini bukan hanya acara sehari. Ia melihatnya sebagai titik awal untuk mengeksplorasi potensi baru dari bahan yang dulu dianggap asing.
“Kalau dulu sawit cuma saya lihat di kemasan minyak goreng, sekarang saya bisa bayangin sawit ada di etalase toko oleh-oleh, jadi kue khas Malang. Siapa tahu, tahun depan bolu sawit ini udah jadi oleh-oleh baru di kampung saya,” tambahnya.
Demi Belajar Olahan Sawit, Dwi Tempuh 3 Jam dari Malang ke Surabaya
Diskusi pembaca untuk berita ini