Jakarta, elaeis.co - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengajak para pelaku usaha sawit tetap optimis di Tengah tantangan ekspor , terutama dari Uni Eropa. Caranya, dengan memanfaatkan berbagai peluang permintaan produk turunan sawit yang datang dari berbagai negara.
“Tidak jarang peluang yang muncul nantinya dapat pula meningkatkan daya saing produk di pasar global,” kata Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan, Dandy Satria Iswara, dalam siaran pers yang dikutip Ahad (13/10).
“Pada tahun 2022, produk turunan sawit Indonesia mencatat pertumbuhan ekspor yang signifikan di beberapa pasar seperti Filipina, Arab Saudi, dan Turki,” tambahnya.
Dia menuturkan, salah satu tantangan di sektor sawit adalah regulasi baru dari Uni Eropa yang dikenal sebagai European Union Deforestation Regulation ( EUDR ).
Peraturan ini bertujuan untuk mengurangi deforestasi global dengan mengatur komoditas impor yang dianggap berkontribusi pada deforestasi, termasuk sawit, sehingga eksportir diminta untuk dapat keterlacakan dari produknya.
Untuk menjaga daya saing di pasar global, pemerintah meningkatkan kebijakan standar keberlanjutan. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan standar mutu sawit berkelanjutan yaitu Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Standar baru ini bertujuan untuk memastikan produk sawit Indonesia memenuhi standar, prinsip, dan kriteria pengolahan bisnis kelapa sawit yang berkelanjutan.
“Langkah-langkah pemerintah ini diharapkan mampu mengatasi berbagai tantangan yang ada, meningkatkan akses pasar ke negara-negara yang semakin peduli pada kemiskinan, serta membuka pasar baru untuk produk sawit dan turunannya,” imbuhnya.
Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus mendukung ekspor nasional, termasuk sawit. Berbagai kebijakan ekspor telah dikeluarkan seperti Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 23 Tahun 2023 dan Permendag Nomor 50 Tahun 2022.
Kemendag juga terus melakukan promosi produk sawit Indonesia di sejumlah pasar tujuan ekspor yang baru, memperluas kerja sama internasional, dan memastikan bahwa sawit Indonesia memenuhi keinginan standar internasional.
Salah satu strategi penting lainnya adalah melalui branding sawit Indonesia melalui berbagai platform digital maupun pameran internasional, serta melalui Perwakilan Perdagangan RI di dunia.
“Dalam menghadapi berbagai tantangan di pasar global, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, sejarawan, dan seluruh pemangku kepentingan sangatlah penting. Kami optimis bahwa dengan upaya bersama dan dukungan semua pihak, kami dapat mempertahankan posisi Indonesia sebagai pengekspor sawit terbesar di dunia dan terus meningkatkan daya saing produk sawit di pasar internasional,” jelasnya.
Kepala Divisi Lembaga Kemasyarakatan dan Masyarakat Sipil BPDPKS, Aida Fitria menjelaskan, BPDPKS terus mendorong penelitian dan inovasi untuk memajukan industri kelapa sawit Indonesia untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, program penelitian dan pengembangan sawit merupakan salah satu upaya BPDPKS untuk melakukan penguatan pengembangan serta peningkatan pemberdayaan pembangunan perkebunan dan industri sawit yang saling bersinergi di sektor hulu dan hilir.
“Minat meneliti kelapa sawit dapat dikelola sejak dini mulai dari mahasiswa Indonesia demi terwujudnya industri sawit nasional yang tangguh dan berkelanjutan,” tutup Aida.
Dihadang EUDR, Pengusaha Sawit Diajak Garap Pasar Non Uni Eropa
Diskusi pembaca untuk berita ini