Limapuluh Kota, elaeis.co - Kendati hanya dihargai paling tinggi Rp1.800/kg di tingkat pedagang pengumpul, seorang pedagang pengumpul sawit di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), mengatakan petani lebih diuntungkan dengan bertanam kelapa sawit.
"Daripada gambir, untuk kondisi saat ini petani lebih diuntungkan dengan mengelola perkebunan kelapa sawit," ujar V. Dt. Padukak, pedagang pengumpul sawit di Kabupaten Limapuluh Kota, kepada elaeis.co, Minggu (5/2).
Dijelaskan Dt. Padukak, petani sawit bisa memetik hasil kebunnya dalam interval waktu sekali dalam 15 hari. Berbeda dengan tanaman gambir, menurut Dt. Padukak, baru bisa diolah enam bulan alias hanya dua kali dalam setahun.
Tapi diakui Dt. Padukak, sejak beberapa bulan belakangan harga tandan buah sawit (TBS) di kawasan itu tidak pernah lagi melewati angka Rp2.000/kg. "Tertinggi pernah mencapai Rp2.800/kg di tingkat pedagang pengumpul," katanya.
Menurut Dt. Padukak, persoalan diperberat oleh biaya perawatan kebun sawit yang tergolong tinggi. 'Belum lagi persoalan pupuk," tambahnya.
Kendati demikian, Dt. Padukak berani memastikan petani sawit masih diuntungkan jika dibandingkan dengan mengelola komoditas perkebunan lainnya seperti gambir dan karet.
Mengutip petani, menurut Dt. Padukak, dengan tingkat harga TBS di atas Rp1.000/kg saja petani sudah mendapatkan nilai lebih dari perkebunan sawit yang dimilikinya.
Di Limapuluh Kota belum banyak petani yang membudidayakan tanaman kelapa sawit. Sejauh ini komoditas yang menjadi andalan adalah gambir dan karet, tapi harganya sudah sejak lama tak kunjung membaik di pasaran.
Dihargai Rp1.800Kg, Pedagang Ini Sebut Petani Lebih Diuntungkan Mengelola Sawit daripada Gambir
Diskusi pembaca untuk berita ini