Jakarta, elaeis.co – Harga minyak dunia kembali melonjak setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. 

Minyak Brent untuk kontrak Mei 2026 tercatat naik 6,7% menjadi USD 98,1 per barel pada Kamis (12/3) sore, mendorong perhatian pasar global terhadap pasokan energi dan potensi cuan dari komoditas energi dan perkebunan, termasuk CPO dan batu bara.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Ekspor Sawit, Indonesia Pilih Rute Alternatif Lewat Tanjung Harapan

Kenaikan harga ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, pelepasan cadangan minyak strategis oleh International Energy Agency (IEA) sebanyak 400 juta barel, yang menjadi volume pelepasan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. 

Tujuannya untuk meredam lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kedua, ancaman gangguan pasokan setelah insiden keamanan di jalur perdagangan energi utama dunia. Pada hari yang sama, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di wilayah Selat Hormuz dan Teluk Persia, setelah pernyataan Garda Revolusi Iran menembaki kapal yang dianggap melanggar perintah mereka. 

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan negaranya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak menuju Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya, memperingatkan harga minyak berpotensi menembus USD 200 per barel.

Analis dari Stockbit menyatakan, pasar masih cemas terhadap prospek pasokan energi global, karena penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu aliran sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. 

Meski IEA melakukan pelepasan cadangan, volumenya diperkirakan hanya setara 16 hari aliran minyak melalui Selat Hormuz, sehingga efek jangka pendek terhadap stabilisasi harga masih terbatas.

Selain itu, pasar menanti kejelasan jadwal pelepasan harian cadangan minyak, sementara negara anggota IEA memiliki cadangan sekitar 1,2 miliar barel, di luar persediaan komersial wajib sebesar 600 juta barel. 

Faktor lain yang dapat menormalkan harga, menurut analis, adalah demand destruction, atau penurunan permintaan akibat kebijakan suku bunga lebih ketat di sejumlah negara.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak membawa dampak ganda. Di satu sisi, harga minyak tinggi dapat menekan APBN, karena pemerintah dihadapkan pada pilihan menaikkan harga BBM atau menyesuaikan belanja negara. 

Di sisi lain, sejarah menunjukkan harga minyak tinggi sering diikuti kenaikan harga komoditas energi dan perkebunan, termasuk batu bara dan CPO, yang menjadi dua komoditas ekspor utama Indonesia.

Investor diperkirakan akan memanfaatkan momen ini. Saham sektor komoditas dipandang berpotensi menguntungkan, seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) di sektor batu bara, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) di sektor CPO.

Pengamat pasar energi menilai, Siapa cepat dia untung. Investor yang mampu membaca gejolak geopolitik dan tren harga minyak dengan tepat bisa memanfaatkan peluang kenaikan harga komoditas energi dan perkebunan di Indonesia.

Dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, pengawasan pasar global akan tetap tinggi. Lonjakan harga minyak ini menunjukkan bahwa geopolitik dan pasokan energi global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga CPO, batu bara, dan sektor komoditas lainnya.