Jambi, elaeis.co - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Provinsi Jambi Kasriwandi menilai kenaikan harga crude palm oil (CPO) memberi dampak positif bagi para petani kelapa sawit.

"Tapi saya melihat yang paling diuntungkan adalah petani swadaya," kata Iwan --panggilan akrab Kasriwandi-- kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Minggu (26/2). Iwan mengatakan itu menyusul kenaikan harga CPO di pasar internasional.

Menurut Iwan, karena pergerakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani swadaya sangat dinamis, bahkan bisa dua kali dalam sehari, praktis kelompok itu yang menikmati.

Berbeda dengan petani bermitra, menurut Iwan, karena penetapan harganya dilakukan dalam siklus waktu tertentu, tidak terlalu diuntungkan.

Untuk kondisi terakhir, menurut Iwan, harga TBS petani swadaya di tingkat pabrik sebesar Rp2.740/kg, sementara harga TBS petani bermitra Rp2.652/kg.

Tapi, diingatkan Iwan, belum tentu harga TBS yang tinggi itu akan langsung dinikmati oleh petani sawit kelompok swadaya. "Masih ada sejumlah rantai pasok yang harus dilalui, dan itu berpengaruh pada besaran nilai jual yang akan dinikmati petani," tambahnya.

Di Jambi sendiri, menurut Iwan, sebagian besar petani sawit termasuk kelompok petani swadaya, yaitu sekitar 80 persen; sisanya 20 persen lagi kelompok petani bermitra.