Berdasarkan data Disbun Kukar, Kecamatan Kembang Janggut menjadi wilayah dengan pengembangan sawit rakyat paling luas, yakni sekitar 7.197 hektare yang dikelola oleh 2.107 kepala keluarga. Sementara di Muara Badak, terdapat sekitar 5.022 hektare sawit rakyat yang dikelola 2.905 kepala keluarga.

“Ini artinya, masyarakat punya akses langsung terhadap lahan produktif yang menopang kesejahteraan mereka,” kata Taufik.

Sementara itu, perusahaan besar swasta (PBS) juga berperan besar dalam sektor ini. Tercatat, luas areal sawit yang dikelola PBS di Kukar mencapai 226.462 hektare. Kehadiran korporasi ini tidak hanya memperkuat ekonomi daerah, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendatangkan investasi.

Meski sawit menjadi primadona, pemerintah daerah tetap menekankan pentingnya keberlanjutan. Disbun Kukar aktif menyalurkan bibit unggul, mengadakan pelatihan teknis, hingga membentuk kelompok tani yang lebih terorganisir.

“Kami ingin para petani bukan hanya produktif, tetapi juga tangguh dan berdaya saing. Pengembangan sawit harus memperhatikan aspek lingkungan agar manfaatnya bisa dirasakan lintas generasi,” tegas Taufik.

Dengan kombinasi antara dukungan pemerintah, antusiasme petani, dan kontribusi korporasi, Kukar optimistis mampu menjadikan kelapa sawit sebagai pilar utama pembangunan ekonomi daerah sekaligus model sukses perkebunan rakyat berkelanjutan di tingkat nasional.