Karena itu, penelitian dan inovasi terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas PKM. Salah satunya melalui teknologi pengolahan dan penggunaan enzim yang dapat membantu memecah komponen serat sehingga nutrisi lebih mudah dicerna ternak.

Pengembangan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai nutrisi PKM dan memperluas penggunaannya dalam industri pakan.

Di sisi lain, penelitian juga diarahkan untuk meningkatkan kelarutan protein dan ketersediaan nutrisi PKM agar semakin kompetitif dengan bahan pakan lain, termasuk soybean meal (SBM), corn gluten meal (CGM), dan distillers dried grains with solubles (DDGS).

Bagi Indonesia, keberadaan PKM memberikan peluang tersendiri. Tingginya produksi kelapa sawit nasional membuat bahan baku bungkil inti sawit tersedia dalam jumlah besar.

Pemanfaatan PKM juga sejalan dengan konsep zero waste dalam industri sawit. Produk samping dari pengolahan kelapa sawit tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat kembali dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi.

Dengan pasokan yang relatif melimpah, harga yang kompetitif, serta kandungan nutrisi yang cukup baik, PKM berpeluang menjadi salah satu bahan baku alternatif untuk industri pakan nasional.

Jika pengolahan dan formulasi terus dikembangkan, bungkil inti sawit bukan cuma menjadi produk samping. PKM bisa mengambil peran lebih besar sebagai bahan pakan ternak sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor.