Tenggarong, elaeis.co - Petani dan anggota Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, diajak berpartisipasi aktif dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK).

Kabid Perkebunan Berkelanjutan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Asmirilda, mengatakan, keterlibatan petani dalam upaya menurunkan emisi GRK bisa dilakukan lewat tiga basis.

“Yakni berbasis lahan, pengolahan limbah, dan berbasis asap,” katanya dalam keterangan resmi Disbun Kaltim baru-baru ini.

Menurutnya, Disbun Kaltim terus melakukan sosialisasi dan pembinaan terhadap KTPA dengan harapan warga semakin sadar terhadap beberapa hal dalam mengelola lahan.

“Seperti tidak melakukan pembakaran saat pembukaan lahan pertanian maupun kebun sawit, sehingga dapat mengurangi pemanasan global atau emisi GRK,” sebutnya.

Hingga kini di Provinsi Kaltim sudah ada 100 KTPA, 41 KTPA diantaranya berada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Dia berharap sosialisasi yang gencar dilakukan bisa menghasilkan setidaknya 2 KTPA baru lagi dari Kutai Kartanegara.

Tugas KTPA ada empat. Melakukan sosialisasi di berbagai kesempatan agar petani tidak membakar lahan saat pembukaan lahan, melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mematikan api, berkoordinasi dengan pihak terkait dalam penanganan karhutla, dan melaporkan kejadian maupun kegiatan oleh KTPA kepada dinas terkait setempat.

"Sosialisasi larangan membakar saat pembukaan lahan merupakan hal yang penting untuk mengurangi emisi GRK, sekaligus untuk mewujudkan pembangunan perkebunan yang berkelanjutan," ucap Asmiralda.

Dia mengingatkan bahwa sisa pembukaan lahan yang dibakar tidak akan menyuburkan tanah seperti yang selama ini diyakini masyarakat. Pembakaran, katanya, justru tidak ramah lingkungan, meningkatkan emisi GRK, dan membunuh mikro organisme pada lahan yang dibakar.

“Padahal mikro organisme tersebut dapat membantu menyuburkan tanah. Itu sebabnya terus kami himbau agar hasil pembukaan lahan tidak dibakar, tapi ditumpuk di lahan. Itu justru bisa menjadi pupuk organik yang juga untuk menyuburkan tanah,” tukasnya.