Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali menunjukkan tren penguatan di pasar komoditas global. Reli harga minyak nabati di kawasan Asia mendorong kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Mei tetap bertahan di atas level 4.500 ringgit per ton.
Data perdagangan pada akhir pekan lalu menunjukkan kontrak acuan CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup naik sekitar 0,51 persen ke posisi 4.564 ringgit per ton.
Kenaikan tersebut memperpanjang tren positif mingguan kedua berturut-turut di tengah pergerakan dinamis pasar minyak nabati dunia.
Secara akumulatif, harga CPO mencatatkan penguatan sekitar 4,56 persen sepanjang pekan terakhir. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar terhadap komoditas sawit masih cukup kuat meskipun terdapat sejumlah faktor risiko dari sisi regulasi dan energi.
Penguatan harga minyak sawit di Malaysia tidak terlepas dari tren kenaikan pada komoditas minyak nabati lainnya di Asia. Harga kontrak minyak kedelai di Dalian Commodity Exchange tercatat naik sekitar 1,27 persen. Sementara itu, kontrak minyak sawit di bursa yang sama juga mengalami kenaikan sekitar 1,34 persen.
Pergerakan ini menunjukkan adanya korelasi kuat antara berbagai jenis minyak nabati di pasar global. Ketika harga salah satu komoditas mengalami kenaikan, komoditas lainnya cenderung mengikuti karena saling bersaing sebagai bahan baku industri pangan maupun energi.
Permintaan dari pasar China menjadi salah satu faktor utama yang menopang reli minyak nabati di kawasan Asia. Negara tersebut merupakan konsumen besar minyak nabati untuk kebutuhan industri makanan, pakan ternak, hingga pengolahan produk konsumsi lainnya.
Selain faktor permintaan, dinamika suplai global juga turut mempengaruhi pergerakan harga. Ketika pasokan minyak nabati tertentu mengalami tekanan atau keterbatasan, pasar biasanya akan beralih pada komoditas alternatif seperti minyak sawit.
Di tengah penguatan harga global, kinerja produksi sawit Indonesia juga menunjukkan tren positif. Data dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mencatat bahwa total produksi CPO nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 51,66 juta ton.
Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan produksi sekitar 7,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ini menandakan bahwa kapasitas pasokan domestik masih berada pada level yang relatif stabil dan mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Indonesia sendiri saat ini merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Industri sawit menjadi salah satu tulang punggung ekspor komoditas nasional serta berperan penting dalam menopang perekonomian daerah penghasil perkebunan.
Namun menariknya, meskipun produksi meningkat, volume impor minyak sawit global justru tercatat mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Data perdagangan menunjukkan impor meningkat sekitar 11 persen pada Februari dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan.
Lonjakan pembelian ini dipicu oleh perbedaan harga yang semakin kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya. Diskon harga yang lebih lebar membuat minyak sawit kembali menjadi pilihan utama bagi industri penyulingan di berbagai negara.
Selain faktor pasar global, investor juga mencermati perkembangan kebijakan energi berbasis sawit di Indonesia. Program biodiesel menjadi salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi permintaan domestik terhadap CPO.
Asosiasi produsen biofuel yang tergabung dalam Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia menyebutkan bahwa uji jalan untuk program biodiesel campuran 50 persen atau B50 masih menghadapi sejumlah tantangan teknis.
Program tersebut merupakan kelanjutan dari kebijakan biodiesel yang sebelumnya menggunakan campuran lebih rendah. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu meningkatkan penyerapan CPO dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.
Namun proses pengujian kendaraan untuk penggunaan biodiesel B50 diperkirakan baru akan selesai sekitar pertengahan tahun 2026. Jika terjadi keterlambatan implementasi, dampaknya bisa mempengaruhi proyeksi konsumsi domestik minyak sawit.
Selain perkembangan di Indonesia, kebijakan ekspor Malaysia juga menjadi perhatian pelaku pasar. Negara tersebut baru saja menetapkan harga referensi CPO yang lebih tinggi untuk periode April.
Kenaikan harga referensi ini secara otomatis meningkatkan tarif bea keluar ekspor menjadi sekitar 9,5 persen. Kebijakan tersebut dapat mempengaruhi dinamika perdagangan minyak sawit global dalam jangka pendek.
Para analis memperkirakan kombinasi antara kebijakan ekspor Malaysia, perkembangan pasar energi dunia, serta kondisi suplai minyak mentah global akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga CPO pada pekan-pekan mendatang.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pasar komoditas sawit diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Namun selama permintaan minyak nabati global tetap kuat, harga CPO berpotensi mempertahankan posisinya di atas level psikologis 4.500 ringgit per ton dalam waktu dekat.
Reli Minyak Nabati Asia Angkat CPO, Kontrak Mei Bertahan di Atas 4.500 Ringgit
Diskusi pembaca untuk berita ini