Pekanbaru, elaeis.co - Dampak musim trek ternyata tak hanya dirasakan oleh petani kelapa sawit saja. Kondisi menurunnya produktivitas kebun sawit ini juga berpengaruh pada penghasilan yang didapat oleh para sopir truk pengangkut tandan buah segar (TBS).

Seperti diungkapkan oleh Adi Firmansyah, salah seorang sopir truk TBS di Trans SKP-C, Desa Pasir Utama, Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.

Dia mengaku penghasilannya turun drastis akibat musim trek tiba. Pasalnya, tak lagi banyak buah sawit yang diangkutnya menuju pabrik. 

"Parah sekarang. Makin sedikit muatan. Biasanya sehari bisa 2 sampai 3 kali balik ke pabrik, sekarang paling cuma 1 kalo. Itu pun kadang gantung, gak penuh," katanya kepada elaeis.co, Rabu (22/2). 

Dia mengaku pendapatannya berkurang cukup jauh. Ini lantaran penghasilannya dihitung berdasarkan banyaknya muatan sawit yang dibawanya. 

"Kita mana ada gaji. Pendapatan kita ya dihitung dari per trip-nya. Kalo gak ada muatan ke pabrik, ya gak ada gaji," tambahnya. 

Hal senada juga diungkapkan Eko Asmoro, salah seorang toke sawit di desa tersebut. Dia mengaku produksi sawit petani yang menjual TBS kepadanya anjlok hingga 60 persen lebih. 

"Trek semua. Buah habis. Biasanya dua mobil penuh-penuh sehari. Sekarang satu mobil pun gak penuh. Kacau pokoknya," kata Eko.