Sementara menurut salah satu petani, Siti, penggunaan bahan organik dan mikroorganisme yang baik untuk tanah adalah kunci dalam praktik RA. Namun, selama ini, penggunaan limbah dari perkebunan seperti jangkos, kohe, urin hewan, bahkan limbah rumah tangga seperti biojus belum dimanfaatkan secara optimal. 

"Selama ini limbah-limbah ini banyak, tapi tidak dimanfaatkan. Dibuang begitu saja. Sebab bisa jadi pupuk dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia," ujarnya.

Pemanfaatan limbah ini akan lebih baik bagi tanaman juga diamini Parwoto, pelatih lokal Regeneratif Agriculture. Bahkan hal itu pernah dibandingkannya dengan menggunakan tangkos, salah satu bahan pupuk organik.

Hasilnya, dalam demplot percontohan seluas dua hektar, produksi cenderung sama dengan pupuk kimia. Hal ini menjadi dorongan bagi petani untuk lebih antusias dalam mengadopsi praktik Regeneratif Agriculture.

“Untuk membuat petani percaya, mereka butuh contoh. Saya pikir hal ini bisa jadi contoh dalam praktik Regeneratif Agriculture," ujarnya.

Memang selama ini sudah banyak petani menggunakan tangkos untuk pupuk organik. Tapi ada yang gagal karena caranya tidak tepat.

“Biasanya petani menumpuk tangkos itu tinggi dan diletakkan ke dekat pahon melingkar. Kalau ditumpuk begitu hanya menjadi sarang hama dan jamur bagi tanaman sawit," kata Parwoto.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Yayasan Setara Jambi, Abu Amar mengatakan pembuatan biojus juga menjadi salah satu praktik yang diterapkan petani. Biojus dibuat dari campuran limbah rumah tangga seperti buah, sayuran, dan molase (tetes tebu).

"Biojus ini dibikin karena ada molase-nya. Sebab ada kandungan gula merah dan gula pasir yang sudah tercampur di dalam air. Artinya bahan limbah rumah tangga bisa dimanfaatkan," jelasnya.

Abu Amar menegaskan bahwa praktik Regeneratif Agriculture ini pada dasarnya mengajak petani untuk berpikir secara lebih holistik dalam memanfaatkan sumber daya sekitar, mengurangi penggunaan bahan kimia, dan lebih memanfaatkan pupuk organik yang ada. Bahkan total 200 orang petani di Kabupaten Tebo sudah mendapatkan pelatihan praktik Regeneratif Agriculture.

"Sebenarnya praktik Regeneratif Agriculture ini mengajak petani swadaya untuk mengurangi atau beralih menggunakan bahan kimia, juga mengurangi penggunaan pupuk sembarangan yang tidak tepat dosis. Apalagi harga pupuk kimia relatif mahal dan susah mendapatkan, kenapa tidak memanfaatkan pupuk yang ada di sekitar kita," ujarnya.

Karena itu, Regeneratif Agriculture ini mengajak petani berpikir mengurangi penggunaan bahan kimia. Tidak berlebihan menggunakan tidak kimia.

Dalam upaya menuju pertanian yang lebih berkelanjutan, pembuatan biojus menjadi salah satu langkah awal. Prosesnya sederhana, di mana bahan-bahan seperti buah/sayuran limbah rumah tangga dan molase dicampurkan dalam botol plastik, lalu digoncangkan selama tujuh hari.

Setelah tiga bulan, biojus tersebut akan menjadi pupuk organik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Karena itu pula pertanian regeneratif di Kabupaten Tebo, menjadi model yang diadopsi oleh petani Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Karena itu pula ada dua organisai petani sawit swadaya di sana saat ini yang sudah mengantongi RSPO, yakni APBML dan FPS MRM. Di demplot percontohan di APBML yang menerapkan pemupukan menggunakan tangkos secara penuh, hasil produksi cenderung sebanding dengan penggunaan pupuk kimia.

Bahkan, terdapat potensi peningkatan produksi yang mungkin akan setara dengan hasil menggunakan pupuk kimia.

Netti, petani sawit swadaya anggota FPS MRM juga mengaku banyak manfaat yang dirasakannya setelah menerapkan praktik Regeneratif Agriculture tersebut.

“Saya menggunakan pupuk kandang kotoran sapi dan urine sapi, saya juga menanam sayuran, dan pohon gaharu di kebun itu. Kata orang di kebun sawit tidak bisa di tanam tanaman lain, tetapi asal bagus pengelolaannya ternyata bisa, asalkan menggunakan pupuk organik agar tanahnya subur. Pasti hasil tanaman lain dan produksi sawitnya tetap bagus,” pungkasnya.