Kalsel, elaeis.co - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) saat ini tengah menggenjot program peremajaan kelapa sawit, baik kebun dengan kategori sudah berusia tua maupun kebin yang berproduksi rendah.
Peremajaan ini, menurut Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Selatan (Kalsel), Samsul Bahri, kudu segera dilaksanakan jika ingin produksi perkebunan kelapa sawit di Kalsel meningkat. Sebab dari data yang diperolehnya, hampir tiap tahunnya 500 hektar kebun masuk usia diremajakan dan produksi rendah.
"Belum lagi 15-20 persen perkebunan kelapa sawit yang ada menggunakan bibit palsu atau abal-abal," katanya.
Khusus untuk penggunaan bibit yang tidak unggul ini, kata Samsul, akibat sulitnya petani mendapatkan bibit bersertifikat saat awal pembangunan kebun miliknya. Selain harus memenuhi persyaratan khusus, petani juga dihadapkan dengan harga yang tidak murah.
"Untuk penangkar sendiri dulu juga tidak bisa sembarangan. Harus melewati birokrasi yang agak sulit. Izin Pemangkat hingga IUP harus dimiliki," bebernya.
Akhirnya, lanjut dia, ketersediaan bibit unggul di lapangan terbatas, sementara petani tidak sabar untuk membangun kebun kelapa sawit. Kemudian membeli bibit yang mudah didapat meskipun kualitasnya tidak diketahui.
"Untuk itu peremajaan kebun sudah sepatutnya digesa. Sehingga target kelapa sawit berkelanjutan terwujud," tandasnya.
20 Persen Petani di Kalsel Pakai Bibit Abal-abal, APKASINDO: Sulit Mendapatkan yang Bersertifikat
Diskusi pembaca untuk berita ini