Jakarta, elaeis.co - Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), (Kementerian Pertanian) RI, gencar melakukan tindakan pengendalian secara tepat dan sesuai ketentuan berlaku, demi mencegah dampak El Nino atau melindungi tanaman perkebunan dari kerusakan yang disebabkan hama dan penyakit.

“Penanganan OPT ini sangat penting dilakukan, harus konsisten dan komitmen diterapkan di seluruh wilayah sentra perkebunan, demi menjaga keberlanjutan produksi hingga hasilnya tetap terjaga ketersediaannya," ujar Dirjenbun, Andi Nur Alam Syah.

Menurut Andi Nur, pihaknya terus mensosialisasikan dan melakukan pembinaan atau edukasi kepada para pekebun agar mereka terinformasi cara pengelolaan hama dan penyakit yang benar, agar bisa diterapkan di kebunnya.

Menurut Andi Nur, Ditjenbun melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya bersinergi dengan Gapoktan Murakapi dari Desa Sukowidi Kecamatan Panekan Kabupaten Magetan, bersama dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Magetan, melakukan pengendalian OPT terhadap komoditas perkebunan melalui layanan Mobil SIANI.

“Mobil Sahabat Setia Petani, atau biasa dikenal SIANI, merupakan bentuk inovasi pelayanan publik berupa laboratorium klinik tanaman perkebunan menggunakan mobil keliling untuk mendatangi lokasi yang membutuhkan dan memberikan berbagai pelayanan yang dibutuhkan pekebun," katanya, dilansir elaeis.co dari website resmi Ditjenbun, Minggu (24/9) kemarin.

Salah satunya, menurut Andi Nur, tersedia layanan dokter tanaman untuk mengidentifikasi serangan serta mendapatkan edukasi teknik pengelolaannya.

Tim laboratorium klinik tanaman perkebunan BBPPTP Surabaya akan segera menindaklanjuti laporan-laporan, dengan pengecekan langsung ke lapangan untuk melakukan identifikasi serangan dan edukasi teknik pengelolaannya.

“Edukasi untuk pekebun dan masyarakat diperlukan untuk memberi pemahaman terkait gejala, serangan, siklus hidup hama, dan rekomendasi penanganan yang tepat. Keberhasilan pengelolaan OPT bergantung kepada komitmen dan kesungguhan pekebun,' terangnya.

Untuk itu, menurut Andi Nur, butuh kolaborasi atau sinergi dari seluruh pihak terkait, agar keberlangsungan komoditas perkebunan ke depannya dapat terjaga dan tersedia.