Oleh karena itu, sambungnya, harus dimulai dari mahasiswa Indonesia agar minat meneliti kelapa sawit ditumbuhkembangkan sejak dini.
"Hal ini demi terwujudnya industri kelapa sawit nasional yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Eddy Abdurachman.
Ia menjelaskan bahwa program riset yang diselenggarakaan BPDKS dilakukan melalui sejumlah mekanisme.
"Pertama, melalui Grant Riset Sawit (GRS), yaitu lewat jalur seleksi dan jalur inisiatif dari kementerian dan embaga. Kedua, melalui lomba riset sawit dari tingkat mahasiwa," ungkapnya lebih lanjut.
Program GRS, kata dia, adalah program dalam rangka peningkatan penelitian dan pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Program GRS, tuturnya, dilaksanakan dengan memerhatikan beberapa aspek, seperti peningkatan produktivitas atau efisiensi, peningkatan aspek sustainability, mendorong penciptaan pasar baru dan peningkatan kesejahteraan petani.
“Program GRS telah dilaksanakan sejak tahun 2015, dan BPDPKS telah mendanai sebanyak 346 kontrak perjanjian kerjasama dengan 88 lembaga litbang dengan keterlibatan 1212 peneliti yang tersebar di 20 provinsi,” jelas Eddy.
Dalam upaya komersialisasi, BPDPKS bekerja sama dengan Asosiasi Inventor Indonesia (AII) melaksanakan valuasi kesiapan teknologi untuk komersialisasi terhadap invensi hasil riset yang didanai BPDPKS.
BPDPKS Sudah Danai 346 Riset dan 1.200 Peneliti Sejak 2015
Diskusi pembaca untuk berita ini