Jakarta, elaeis.co - Pendidikan tinggi sering dianggap hanya soal duduk di kelas, mencatat materi, lalu ujian. Tapi beda cerita dengan Politeknik CWE. 

Di sini, mahasiswa penerima Beasiswa SDM Sawit justru “ditempa” langsung di lapangan, bahkan sejak dini sudah dibiasakan hidup seperti pekerja profesional di industri perkebunan.

Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Politeknik CWE, Ir. St. Nugroho Kristono, M.T., yang menegaskan bahwa kunci utama pembentukan SDM unggul di kampusnya adalah keseimbangan antara hard skill dan soft skill.

“Hard skill itu dibentuk lewat kurikulum, dosen, dan praktik. Tapi soft skill itu yang paling penting, mentalnya harus kuat,” ujarnya dalam sebuah sesi pemaparan program pendidikan.

Salah satu strategi yang diterapkan Politeknik CWE cukup unik. Setengah dari tenaga pengajar berasal dari praktisi industri sawit yang sudah berpengalaman langsung di lapangan.

Menurut Nugroho, model ini membuat mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga langsung menyerap pengalaman nyata dari dunia kerja.

“50 persen dosen kami adalah praktisi. Mereka sudah terbiasa di kebun, tahu kondisi lapangan, jadi mahasiswa langsung dapat gambaran real,” jelasnya.

Tidak berhenti di kelas, mahasiswa juga diwajibkan mengikuti praktik lapangan intensif selama satu bulan di kebun sawit seluas 10 hektare di Subang. Di sinilah mental mereka benar-benar diuji.

Uniknya, kampus tidak menyediakan fasilitas “nyaman seperti perusahaan besar”. Justru mahasiswa didorong untuk belajar bertahan, beradaptasi, dan menjalani kehidupan seperti pekerja kebun sebenarnya.